Usaha Aksesoris Kain Tenun Sulsel Karya Anak Lokal

Sabtu, 13 April 2019 - 14:43 WIB

Fesyenable dengan Tas Kain Tenun

Kini generasi Milenial lebih menyukai yang simple namun unik, aksesoris dengan kain tenun misalnya.

DEWI SARTIKA MAHMUD
Kecamatan Rappocini

Sebuah Meja baru saja dirapikan oleh dua pemuda. Disana terlihat beberapa aksesoris kerajinan tangan, unik terbuat dari kain tenun. Dipamerkan pada gelaran Femme and CBFW beberapa waktu lalu.

Semua produk tersebut karya anak lokal, yang tergabung dalam wadah kreatif kerajinan yang diberi nama Tenoon. Mereka memiliki lokasi workshop di Jl Maccini, Makassar.

Ada beberapa jenis aksesoris tenun di sana yang dipajang, beserta namanya. Bahkan warna kain tenun yang cerah dipadukan dengan beberapa kain tenun polos, membuatnya semakin menarik. Seperti ingin membelinya jika melihat.

Desainnya pun dibuat kekinian gaya anak muda, mengikuti model yang sedang trend dari menggunakan tali hingga yang bermotif ala-ala girls band Korea. ini membuatnya dilirik. Tak hanya untuk perempuan, namun ada pula yang dibuat untuk laki-laki.

Cukup unik memang, siapapun yang lewat dekat meja tersebut pasti menoleh. Tak hanya tertarik dengan model, desain dan bahan kain tenun yang digunakan. Tetapi juga nama aksesoris tersebut, membuat orang untuk sekedar singgah, melihat dan bertanya untuk menjawab rasa penasaran akan nama unik tersebut.

Seorang pemuda berdiri disana menjelaskan dengan ramah, namanya Fadly. Ia dipercaya
sebagai Head Of Community Tenoon. Sembari menunjuk satu persatu aksesoris tersebut, ia menjelaskan dengan sabar kepada orang-orang yang bertanya.

Ditunjuknya satu persatu, diperlihatkan sebuah tas tangan yang dibuat dari kain tenun bercorak tebal. “Ini diberi nama lima, kenapa namanya lima, karena diambil dari bahasa daerah Sulsel, lima artinya tangan,”tutur Fadli sembari tersenyum.

Pengunjung masih penasaran, Fadly menjelaskan kembali, rupanya ada filosofi tersendiri dari tiap nama yang diberikan aksesoris tersebut. Diambil dari kata Limang yang dalam bahasa Makassar artinya tangan, karena penggunaannya ditangan.

Tak berhenti disitu, ia melanjutkan lagi menjelaskan beberapa aksesoris. Dipegangnya pasport cover yang disebut lampa, diambil dari bahasa Makassar yang artinya pergi. Sebab pasport digunakan bepergian.

“Ini juga unik, namanya Sesean atau tas folder, namanya ini di ambil dari salah satu gunung di toraja, karena modelnya yang segitiga seperti gunung ketika dilipat,” ungkap Fadly sembari menyodorkan sebuah tas berbentuk persegi tiga kepada pengunjung untuk dipegang.

Lumayan banyak model dan warna yang disediakan. Yang paling banyak digemari memang adalah tas. Selain bisa dipakai kuliah atau kesekolah, tas tenun ini juga bisa dipakai jalan ataupun ke kondangan.

Asal mula aksesoris tenun ini berawal dari salah seorang kerabat Fadly yang juga penggagas Tenoon. Namanya Pratiwi Hamdhana, kala itu ia sedang research social enterprise di UK 2016 silam.

Dari sana ia menyadari kalau di negara-negara lain, mereka lebih kental mengangkat budaya. Dengan kata lain sesuatu yang khas dari daerah atau negara mereka.

“Kenapa kita tidak mencoba juga,”ucap Fadly menirukan gaya bicara Pratiwi kala itu kepada teman-temannya.

Dari sanalah, bermula. Karena melihat kain tenun itu sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan, maka bergeraklah ia bersama teman-temannya mengemasnya dalam bentuk produk yang menarik.

Dibuatlah beberapa produk dengan kain tenun Sutra Sengkang, Cura’ La’bak, kain Mandar dan tenun Toraja. Selain dari kain-kain tersebut yang dibuat unik.

Tenoon juga memberdayakan teman-teman disabilitas, sebagai tim produksinya. Mulai dari konsep desain, menjahit hingga memasarkan. Sehingga hasil penjualan ini sebagiannya disalurkan untuk sosial.

“Kita bekerjasama dengan teman-teman tuli yang memang memiliki keahlian membuat produk tas,” tutur Pria yang juga merupakan alumni Psikologi di Universitas 45 Makassar, saat ini Unibos.

Berawal dari omset 20 juta yang dipakai patungan tabungan. Menghasilkan beberapa buah tas, hingga kini perbulan kapasitas produksi yang dihasilkan sudah bisa lebih dari 1.000.

“Ini untuk semua total item, namun tergantung lagi dengan orderan yang masuk diworkshop kami,”tambah Fadly.

Tak main-main orderannya tak hanya di wilayah Sulsel, tetapi juga sudah merajai pasar di Bali, Jakarta, Bandung bahkan ke beberapa negara luar seperti Amerika, Inggris dan beberapa negara asia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.