Mudik Lebaran 2019: Angkutan Darat Diprediksi Naik tapi Udara Turun

Minggu, 14 April 2019 - 20:00 WIB
Pemudik yang menggunakan moda kereta masih mendominan pada Lebaran 2019. (Imam Husein/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Angkutan mudik Lebaran tahun ini, khususnya lewat jalur darat, diprediksi meningkat. Itu seiring dengan beroperasinya tol trans-Jawa. Namun, pembangunan jalan layang (elevated) tol Jakarta-Cikampek berpotensi mengakibatkan kemacetan di tol.

Pengamat transportasi Darmaningtyas mengatakan, pekerjaan rumah pemerintah pada arus mudik tahun ini adalah belum selesainya pembangunan tol Jakarta-Cikampek elevated. Dia berharap ada langkah antisipasi. Misalnya, memperbaiki jalur pantura sehingga bisa menjadi opsi alternatif bagi pemudik. “Tol dan rest area sudah lebih siap. Cuma tinggal crowded-nya Jakarta-Cikampek,” katanya kemarin (13/4).

Dia mengakui, selain angkutan mudik dengan kendaraan pribadi atau bus, moda transportasi kereta api tetap menjadi pilihan pemudik. “Keretanya sudah banyak yang baru,” ungkap Darmaningtyas.

Berdasar data PT KAI Daop 1, per 13 April 2019 pukul 06.00 WIB tersisa banyak kursi untuk arus mudik mendatang (26 Mei-16 Juni 2019). Jumlah yang tersedia mencapai 1.705.143 kursi (59,4 persen) untuk kereta reguler dan tambahan. Sementara itu, tiket yang telah terjual 1.165.623 (40,6 persen). Pada hari-hari tertentu, tiket memang sudah habis terjual.

Untuk moda transportasi udara, tahun ini diperkirakan terjadi penurunan. Hal itu merupakan dampak dari kenaikan tarif.

Direktur Komersial Indonesia AirAsia Rifai Taberi mengaku belum bisa menyebutkan data penjualan tiket untuk angkutan mudik. Sebab, kebanyakan pemesanan dilakukan saat awal puasa. “Jadi, belum bisa dielaborasi karena trennya memang seperti itu,” paparnya.

Sementara itu, potensi transaksi pemudik tahun ini Rp 10,3 triliun untuk dibelanjakan di lokasi mudik. Lalu, Rp 6 triliun untuk urusan transportasi. Potensi tersebut semestinya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh daerah yang dilalui tol trans-Jawa. Salah satunya dengan menyiapkan fasilitas area istirahat di kota/kabupaten tersebut.

“Badan usaha jalan tol (BUJT) mesti aktif mengedukasi masyarakat dan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol atau di daerah yang dilalui jalan tol,” ujar pengamat transportasi Djoko Setijowarno.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.