Dewasa dengan Perbedaan

0 Komentar

Oleh: Hamdan Juhannis

BESOK kita akan berpesta demokrasi. Disebut pesta karena ada keramaian atau perhelatan. Perhelatan suara rakyat untuk memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden dan memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di lembaga legislatif.

Pesta demokrasi bukan tujuan tapi proses sampai tujuan. Tujuan kita adalah menjadi bangsa sejahtera. Tujuan kita bukan memenangkan calon yang didukung. Tujuan kita adalah bagaimana memastikan bahwa kemenangan calon yang didukung bisa membawa gerbong besar ini selalu berada pada trek kesejahteraan.

Pesta ini ditandai dengan pencoblosan. Pencoblosan itu adalah simbol partisipasi. Partisipasi itu menjadi niscaya karena demokrasi terbentuk dari suara rakyat. Itulah ada negara yang mengatur bahwa memilih itu adalah kewajiban dan bukan sebatas hak. Karenanya, bila ada warga yang tidak datang memilih, kepadanya diberlakukan denda atau sanksi.

Lebih dari hiruk pikuk pencoblosan, besok adalah bagian dari ujian panjang bahwa apakah bangsa ini semakin dewasa dalam berdemokrasi. Bangsa ini mulai berusia dan itu takdir. Tapi untuk menjadi dewasa adalah murni keputusan bangsa ini. Apakah bangsa ini memutuskan bergerak meninggalkan demokrasi prosedural semata. Jadi sesungguhnya pencoblosan itu adalah ujian tentang kedewasaan berpolitik sebagai kunci demokrasi substantif.

Sebuah ujian bahwa apakah pola yang tercipta dengan pilihan yang berbeda hanya pernik dari hak dasar setiap manusia untuk menentukan pilihannya yang tidak lantas menghasilkan polarisasi. Sebuah ujian bahwa apakah suami berbeda pilihan dengan istri, bos beda pilihan dengan anak buah, sahabat sehidup semati tapi beda pilihan, hanyalah ekspresi dari keragaman hak politik.

Ujian bahwa apakah perbedaan pilihan itu tidak lantas mengurangi kehangatan persahabatan yang begitu lama dirajut. Perbedaan pilihan tidak lantas membuat silaturrahim menjadi renggang. Perbedaan pilihan tidak serta merta menyisakan ‘hard feeling’. Ada yang mungkin sesekali perlu berbeda untuk memaknai begitu pentingnya rajutan kebersamaan. Ada yang mungkin sesekali perlu berdiri jauh di sana, untuk merasakan pentingnya kedekatan diri di sini.

Intinya, perbedaan itu adalah jalan bagi pendewasaan. Orang-orang yang bisa mengelola perbedaan sebenarnya memiliki kesamaan dengan lainnya. Kesamaannya adalah sama-sama menghargai perbedaan. Besok setelah keluar dari bilik suara, semua dinamika dianggap sebagai pemanis tentang siapa yang akan memimpin bangsa ini, dan presiden yang terpilih bukan hanya pemimpin bagi pendukungnya.

Intinya besok kita akan semakin menjadi dewasa karena kita tidak akan membuat ‘setback’ dari capaian selama ini hanya karena perbedaan pilihan. Perbedaan yang mempersatukan kita. Karena unsur perbedaanlah yang menciptakan keutuhan atau anak muda menyebutnya ‘chemistry’.

Sampai di musim kampanye ada pendukung capres berbeda yang memutuskan menikah untuk menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak akan menghalangi rajutan cinta azasi mereka. Sangat salut, tapi yang sudah menikah tidak perlu mencontohinya, takutnya ada yang mencap sebagai ketidakdewasaan. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment