Jelang 17 April, Nasdem Siapkan 1,6 Juta Saksi di TPS

Selasa, 16 April 2019 - 00:04 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Saksi Pemungutan Suara adalah elemen penting dalam Pemilu. Saksi ini dimiliki oleh masing-masing peserta Pemilu baik parpol, caleg ataupun kontestan pilpres. Saksi berkaitan langsung dengan data valid perhitungan suara yang sah, bahkan penting fungsinya ketika ada sengketa pemilu.

Nasdem pun telah mempersiapkan saksi untuk kawal suara partai dan calon presiden petahana Joko Widodo. Partai besutan Surya Paloh itu sangat konsen dalam menjaga suara agar tak tercuri. Partai NasDem menyiapkan 1,6 juta saksi di seluruh TPS.

“Kita menyiapkan sekitar 1.6 juta saksi lebih,” ungkap Ketua Komisi Saksi Nasdem, I Gusti Putu Artha, Senin (15/4).

Saksi Partai Nasdem tersebar di 809.497 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Indonesia. Per TPS Nasdem menerjunkan 3 saksi.

“Sistem pembiayaan gotong royong para caleg,” katanya.

Dalam menjalankan tugasnya, para saksi Partai Nasdem sudah diberikan pemahaman dan pelatihan mengenai fungsi di TPS hingga pemungutan suara. “Saksi dibekali SOP jam per jam hingga rekapitulasi suara di kecamatan. Saksi bekerja H-2 sampai dengan Hari H,” tuturnya.

Jika di TPS atau daerah ada kecurangan, maka, saksi Partai NasDem langsung melakukan koordinasi dengan seluruh koordinator di masing-masing kelurahan hingga kecamatan.

“Nasdem sudah dibekali per kecamatan sistem pelaporan kecurangan. Badan Advokasi NasDem tiap kabupaten siap merespon dengan secepatnya,” tuturnya.

Di kesempatan lain, pengamat pemilu menilai partai politik penting menghadirkan saksi di TPS sebagai bukti pegangan jika nanti ada keberatan di kemudian hari.

Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia, Kaka Suminta mengatakan, saksi di TPS, baik dari utusan partai, utusan capres, atau utusan anggota DPD berperan penting sekali.

“Sebab saksi itu adalah titik hubung untuk memantau perhitungan dan hak lain yang selanjutnya akan berproses, dia melakukan pencatatan semua, sehingga jika nanti ada keberatan yang merugikan partai politik atau yang diwakili, saksi ini lah yang memiliki bukti otentik,” katanya.

Kaka mengatakan, saksi nanti akan mendapat salinan C1 yang menjadi alat bukti utama jika ada perbedaan perhitungan di kemudian hari. C1 itulah, kata dia, yang bisa dibawa jika ada gugatan-gugatan misalnya ke Mahkamah konstitusi.

“Problemnya adalah saksi partai yang harusnya dilatih bawaslu, dalam beberapa pelatihan, ternyata tidak terisi penuh. Misalnya diundang 500 saksi, cuma datang 100 ini kan sayang sekali. Padahal Bawaslu itu kan pakai anggaran negara, kan mubazir dan saksi yang tidak diberi pelatihan tidak mengerti,” tuturnya.

Menurut dia, saksi yang kurang paham dan tidak mendapat pelatihan akan tidak mengerti harus berbuat apa di TPS. Jika saksi utusan partai yang dikirim tidak mengerti, dan tidak paham mekanisme di TPS, maka berpotensi akan merugikan partai dan juga pelaksana di TPS itu .

“Jadi ada kekhawatiran saksi yang tidak terlatih malah tidak paham apa yang harus dia lakukan, parpol seharusnya mampu menghadirkan saksi yang kompeten, sebab kalau ada keberatan, cara-cara yang dilakukan akan sesuai aturan,” tuturnya.

Dengan saksi, Nasdem bisa mempercepat mendapatkan hasil perhitungan nyata (real count) dari saksi yang ada di seluruh TPS di Indonesia.

Apalagi, NasDem juga telah membentuk Komisi Saksi Nasional yang diketuai oleh mantan Komisioner KPU I Gusti Putu Artha dan mantan Komisioner Bawaslu, Nasrullah sebagai sekretaris.

Nasdem menyadari Pemilu serentak kali ini menyita banyak energi para saksi. Oleh karena itu, partai ini memberikan pembekalan dan pelatihan kepada saksi serta mengingatkan kalau pekerjaan mereka merupakan tugas mulia.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.