Kontribusi Kreatif Orang-Orang Muda untuk Pemilu Adil dan Damai

0 Komentar

Isi dialog, diksi, dan humor di video yang diinisiatori Iqbal disesuaikan dengan target yang disasar: pemilih pemula. Tri yang menjadi pemeran tunggal harus memainkan delapan karakter, mulai petugas TPS sampai bayi yang masih ngedot.

UMAR WIRAHADI, Gresik

BAPAK itu tengah bersantai di kursi teras rumah. Mengenakan kaus oblong dan peci hitam, kedua tangannya tampak memegang koran.

“Nanti 17 April jangan lupa nyoblos (disensor) ya,” katanya kepada sang anak yang berada di samping, tapi tidak terlihat di kamera. “Agar ayah bisa ngopi gratis,” lanjut si bapak.

Yang terdengar kemudian justru suara tangis. Dot di mulutnya jatuh. Ternyata, yang diajak bicara si bapak masih bayi. Yang tentu saja tidak punya hak pilih pada hari pencoblosan 17 April nanti.

Itulah cara Tri Wiguna Natawireja, si pemeran bapak dan anak dalam penggalan video di atas, bersama dua rekannya, M. Iqbal Rizqi Sya’ban dan Abdullah Sholahuddin Al Ayyubi, mengajak siapa saja untuk ke bilik suara. Sebab, “syarat” untuk jadi golongan putih (golput) itu baru “sah” kalau seseorang memang belum memenuhi batas umur minimal.

“Seperti si bayi itu,” kata Tri kepada Jawa Pos.

Video bertajuk Elu Boleh Golput, Asal… tersebut pada 25 Maret lalu diumumkan sebagai pemenang lomba video pendek yang diadakan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Tema lombanya “Alasan Saya Tidak Golput di 2019”.

Lalu, adakah syarat “sah” lain untuk tidak mencoblos? Itu juga yang ditanyakan seorang reporter televisi kepada seorang narasumber di video berdurasi 2 menit tersebut.

“Kenapa Anda golput?” tanya si reporter.

Setelah diam sejenak, si narasumber menjawab dengan memasang muka kaku, “Wakanda forever.”

Bagi penggemar film superhero produksi Marvel Studios, Wakanda adalah sebuah negara fiktif yang terletak di Afrika Sub-Sahara. Negara itu merupakan kampung halaman tokoh pahlawan super Black Panther.

Artinya, kata Tri, dia bukan WNI (warga negara Indonesia). “Ya jelas tidak bisa nyoblos di negara kita, hehehe,” ujar mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

***

Adalah Iqbal yang kali pertama mengetahui pengumuman lomba video pendek itu. Mahasiswa ITB asal Gresik, Jawa Timur, tersebut langsung berpikir keras menggali ide.

Akhirnya, dia mengajak dua rekannya, Tri Wiguna dan Sholahuddin Al Ayyubi. Kebetulan, ketiganya sesama aktivis di unit videografi Masjid Salman ITB. “Saya sebagai produser langsung mikir skenario dalam video,” tutur Iqbal.

Ditemui Jawa Pos Selasa lalu (9/4), Iqbal sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) Semen Gresik. Dia baru saja menjalani operasi batu empedu. Meski begitu, pemuda 22 tahun itu tampak bugar selama bercerita tentang proses kreatif di balik pembuatan video pemenang lomba Perludem tersebut. Mulai menentukan lokasi syuting yang cocok, menyusun urut-urutan adegan, isi dialog, hingga penggunaan properti oleh pemeran.

Awal Maret, dimulailah pencarian ide. Berbagai referensi dibuka. Termasuk melakukan riset kecil-kecilan dengan menanyakan alasan seseorang untuk golput. Jawabannya ternyata macam-macam.

“Mulai alasan tidak sreg dengan calon, tidak kenal, sampai ada yang tidak mau tahu. Siapa yang memimpin, cuek saja,” tutur Iqbal.

Muncul pula alasan yang bagi ketiganya “ajaib”. Misalnya, ogah nyoblos karena alergi paku yang tajam. Khawatir mengenai tangan. Atau alasan biar bisa hemat. Sebab, menuju TPS butuh ongkos atau biaya beli bensin.

“Terdengar konyol memang, hahaha,” ujar Iqbal. “Tapi, tetap kami saring semua.”

Setelah merancang skrip video, proses syuting dimulai. Syuting dilakukan pada 9-10 Maret. Dari pagi hingga sore.

Syuting dilakukan di dua tempat: area Masjid Salman ITB dan sekitar kos-kosan di Jalan Tubagus Ismail, Bandung.

Tri ditunjuk sebagai aktor. Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat, itu menjadi pemeran tunggal. Ada delapan karakter sekaligus yang dimainkan mahasiswa semester VIII tersebut.

Karena itu, dia harus memboyong sejumlah pakaian ke tempat syuting. Sebab, properti harus diganti sesuai dengan karakter yang diperankan.

Di antaranya, menjadi petugas TPS (tempat pemungutan suara), ayah, bayi, dan reporter. Yang paling sulit, kata pemuda 23 tahun itu, adalah saat berakting layaknya seorang bayi.

“Mungkin retake (pengambilan ulang gambar) sampai sepuluh kali,” ungkapnya.

Dia harus mempelajari cara menangis bayi hingga minum dot. Bahkan sampai harus meminjam bedak bayi ke seorang teman perempuannya. “Susahnya juga karena harus kuat nahan malu,” sambungnya, lantas tertawa.

Sejak awal, Iqbal merancang sasaran video tersebut, yakni pemilih pemula dan kalangan milenial. Karena itu, isi dialog, diksi, dan humor di dalamnya disesuaikan. Khas anak-anak muda.

Misalnya, menganalogikan pemilihan pemimpin dengan ujian sekolah. Pelajar atau mahasiswa yang menempuh ujian pasti pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan soal yang dilematis.

Dijawab atau dilewati. Dijawab takut salah, dilewati begitu saja juga kok eman nilainya.

Tapi, lanjut Iqbal, dijawab atau tidak, guru atau dosen pasti akan mengeluarkan nilai hasil ujian. Begitu pula dengan pemilu. Nyoblos atau tidak nyoblos, KPU (Komisi Pemilihan Umum) pasti akan mengumumkan siapa kandidat yang terpilih sebagai pemimpin.

“Jadi, lebih baik memilih salah satu jawaban, atau pasrah pada keadaan,” ucap Iqbal meniru cuplikan monolog dalam video itu.

Video pendek yang berisi 25 kalimat monolog tersebut kini menuai apresiasi. Sejumlah pihak meminta karya tiga anak muda itu ditayangkan untuk disampaikan ke pemilih.

Permintaan datang dari KPU, Bawaslu, serta Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR). Pesan utamanya adalah meminimalisasi angka golput.

***

Bagi Sholahuddin Al Ayyubi, dirinya mendapat dua hal sekaligus sebagai editor video yang diproseduri Iqbal. Pertama, tambahan wawasan tentang pemilu. Kedua, berkali-kali tertawa melihat akting Tri.

Dengan menonton video, menurut pemuda 22 tahun itu, sebenarnya tak ada alasan ba­gi WNI yang cukup umur untuk tidak mencoblos. Jika pun calon dianggap tidak cocok, pemilih punya waktu untuk meneliti sosok dan rekam jejaknya.

Bisa lewat jejak digital seperti berita-berita online atau status medsosnya. Juga melalui baca koran. Pada era banjir informasi seperti saat ini, referensi untuk melacak track record calon pemimpin sangat banyak.

“Dengan melihat visi-misi, program, dan rekam jejak, pasti ada sosok yang layak diperjuangkan,” tegas mahasiswa jurusan seni rupa ITB itu.

Jadi, kalau yang sepatutnya golput, ya cuma mereka yang belum memenuhi batas umur atau bukan WNI. Atau yang sejenis dengan sosok yang dihadapi petugas TPS di video garapan Iqbal dkk.

Sosok dengan mata melotot. Rambut berdiri bagai ijuk. Dan, bernama lengkap: Alien, si makhluk dari luar bumi! (jpc)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...