Perkembangan Ekonomi dan Teknologi Pemicu Kasus Perundungan

Selasa, 16 April 2019 - 11:47 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus perundungan seperti mata rantai yang tak pernah putus. Belum lama ini, masyarakat dikagetkan dengan kasus kekerasan yang dialami siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, Audrey (14). Audrey yang diduga dianiaya oleh 12 siswi SMA harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kasus kekerasan ini telah menimbulkan banyak reaksi masyarakat. Tak sedikit masyarakat geram akibat tindakan para pelaku yang juga masih anak-anak (di bawah 18 tahun) ini. Meski telah berurusan dengan pihak yang berwajib para pelaku seakan tak peduli dengan kecaman masyarakat khususnya pengguna sosial media. Saat diperiksa di kantor polisi para pelaku tetap eksis di sosial media dan mengunggah foto-foto selfie mereka.

Melihat kasus tersebut, Psikolog Patricia Yuannita M.Psi mengungkapkan bahwa kasus perundungan yang dialami Audrey bukanlah hal baru. Menurut Yuan kasus perundungan atau sering disebut bullying sudah ada sejak tahun 90-an akan tetapi berkemban dengan pesat karena perkembangan ekonomi dan teknologi.

“Orang-orang menunjukkan siapa yang bisa survive. Anak remaja memasuki tahapan perkembangan  mencari identitas. Siapa sih saya? Lingkungan menentukan eksistenai mereka, salah satunya media sosial,” jelas Yuan pada temu media yang dilakukan Forum Ngobras di kawasan Menteng, Jakarta, Senin (15/4).

Menurut Yuan, media sosial merupakan sarana yang efektif untuk mengekspresikan diri di era digital ini. Namun sayangnya anak-anak tidak diawasi dengan baik oleh orangtua mereka sehingga apapun yang terjadi merupakan kesalahan orangtua.

Perundungan kata Yuan sebenarnya menunjukkan kekuatan lebih, Ini saya seperti ini! Dilihat dari lingkungan sosialnya pasti ada satu yang lemah dan inilah korban. “Ketika korban tidak punya skil apa pun akan makin agresif dianiaya,” katanya.

Jika dikaitkan dengan pola asuh, kata Yuan memang ada penyebabnya. Dalam dunia psikologis dikenal tiga cara pola asuh yakni Neglected, Permisif, atau Demokratis. “Remaja yang suka bully biasanya orangtuanya terlalu permisif atau neglected,” katanya.

Pola pengasuhan paling baik adalah otoritatif dan demokratif di mana anak diberi kebebasan mengekspresikan diri, tidak hanya hitam dan putih tetapi sudah bisa diajak diskusi untuk problem solving. Usia 16 – 18 tahun mereka seharusnya sudah diajarkan kemandirian.

“Pola asuhnya harus dua arah. Diajarkan untuk pengambilan keputusan. Ketika ada kasus bullying solusinya adalah ini kasus anak-anak yang harus diperbaiki adalah komunikasi emosional bukan verbal. Apakah orangtua paham apa yang sedang terjadi anaknya dengan melihat gestur, mimik muka dan perilaku anak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.