Perkembangan Ekonomi dan Teknologi Pemicu Kasus Perundungan


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kasus perundungan seperti mata rantai yang tak pernah putus. Belum lama ini, masyarakat dikagetkan dengan kasus kekerasan yang dialami siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, Audrey (14). Audrey yang diduga dianiaya oleh 12 siswi SMA harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.Kasus kekerasan ini telah menimbulkan banyak reaksi masyarakat. Tak sedikit masyarakat geram akibat tindakan para pelaku yang juga masih anak-anak (di bawah 18 tahun) ini. Meski telah berurusan dengan pihak yang berwajib para pelaku seakan tak peduli dengan kecaman masyarakat khususnya pengguna sosial media. Saat diperiksa di kantor polisi para pelaku tetap eksis di sosial media dan mengunggah foto-foto selfie mereka.Melihat kasus tersebut, Psikolog Patricia Yuannita M.Psi mengungkapkan bahwa kasus perundungan yang dialami Audrey bukanlah hal baru. Menurut Yuan kasus perundungan atau sering disebut bullying sudah ada sejak tahun 90-an akan tetapi berkemban dengan pesat karena perkembangan ekonomi dan teknologi.”Orang-orang menunjukkan siapa yang bisa survive. Anak remaja memasuki tahapan perkembangan  mencari identitas. Siapa sih saya? Lingkungan menentukan eksistenai mereka, salah satunya media sosial,” jelas Yuan pada temu media yang dilakukan Forum Ngobras di kawasan Menteng, Jakarta, Senin (15/4).Menurut Yuan, media sosial merupakan sarana yang efektif untuk mengekspresikan diri di era digital ini. Namun sayangnya anak-anak tidak diawasi dengan baik oleh orangtua mereka sehingga apapun yang terjadi merupakan kesalahan orangtua.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR