Pinjam Uang di P2P Lending, OJK Minta Masyarakat Sadar Diri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,JAKARTA–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan produk atau jasa lembaga keuangan. Sebab, banyak iklan yang bisa menggiurkan namun juga bisa merugikan bagi kreditur.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sarjito menyatakan, pihaknya kerap menerima laporan dari masyarakat yang terlilit utang pada jasa keuangan yang ditawarkan lewat fintech peer to peer (P2P) lending. Biasanya, kejadian rata-rata terjadi pada fintech ilegal yang menerapkan bunga sangat tinggi.

Sarjito mencontohkan, ada pasangan suami istri yang melakukan pinjaman ke 20 fintech berbeda. Masing-masing pasangan meminjam ke 10 fintech dengan besaran Rp 1 juta per fintech.

“Akhirnya ngadu ke OJK bisanya bayar 1 fintech saja,” ujar dia dalam konferensi pers di Kantor OJK, Jakarta, Selasa (16/4).

Dia mengimbau masyarakat agar tahu diri saat hendak melakukan pinjaman. Artinya, saat hendak meminjam harus dikondisikan dengan kemampuan bayarnya.

“Sebagai konsumen baiknya rumangsa (merasa tahu diri), kalau enggak punya duit yasudah (jangan pinjam banyak-banyak). Kalau bisa hanya bayar Rp 1 juta, kenapa pinjam Rp 20 juta. Jadi dari sisi konsumen harus waspada juga,” jelasnya.

Sekedar informasi, OJK menjelaskan ada tiga kriteria iklan yang wajib jadi pedoman lembaga jasa keuangan (LJK). Kriteria ini wajib diikuti oleh LJK saat melakukan kegiatan iklan. Hal itu juga tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. Sarjito menegaskan, beleid sedang disempurnakan kembali mengikuti perkembangan di industri lembaga keuangan.

Dalam aturan tersebut, OJK mengatur pedoman iklan lembaga keuangan harus mencakup pernyataan yang akurat, jujur, jelas, dan tidak menyesatkan. Sehingga masyarakat pun bisa memilih produk jasa keuangan yang tepat. (jpc)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar