Sineas Muda Makassar Putar Film Pendek di Rumata’

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sineas muda Makassar dari meditatif film bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Makassar dan rumata art space menyelenggarakan pemutaran antologi film pendek yang ditujukan kepada khalayak umum Makassar. Terkhusus bagi para penggiat dan penikmat film. Pemuataran film yang mengusung tema Yang Pulang dan Tak Kembali diadakan dari 12 April hingga 14 April bertempat di Rumata’ Art Space.

Tema Yang Pulang dan Tak Kembali diangkat karena bentuk pemutaran yang dilaksanakan yaitu dengan memutarkan empat film pendek yang diproduksi oleh para sineas muda bersama meditatif film. Selain itu, terdapat juga diskusi membahas tentang empat film yang telah ditayangkan. Dalam diskusi, Shinta Febriany sebagai pemantik dan Ayu Kartika menjadi moderator dalam membahas film-film yang telah diputarkan.

Empat film karya Magung Budiman, Helmi Wantalita, Ika Mahardika, dan Arman Dewarti yang masing-masing berjudul Suara dari Kehilangan, Renjana, Jalan Pulang, dan Terbenam di udara kering dibahas dalam film ini, didiskusikan secara rinci oleh Shinta Febriany mulai dari Alur cerita, artistik, cinematography hingga editing film ini digali bersama peserta diskusi.

Dari keempat film pendek tersebut semua bercerita tentang kematian alasannya karena mereka ingin menginterpretasikan kematian dari sudut pandang subjektif seorang sutradara.

Ini adalah event ke-2 setelah Makassar in Cinema yang mereka adakan di Rumata’ Artspace

Menurut Helmi Wantalita salah seorang sutradara muda yang berperan besar dalam event tersebut menyatakan, Ia ingin film yang mereka buat bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Arman Dewarti sekaligus sutradara film terbenam di Udara Kering, menanggapi pertanyaan dari salah satu peserta diskusi “kita harus banyak meriset dalam menciptakan tokoh dalam film. Tanda/simbol dalam film adalah kerja semiosis, ada tanda konotatif dan tanda denotatif, tidak semua tanda dalam film bersifat konotatif yang selalu simbol, tidak semua tanda dimaknai berjamak, tapi ada tanda yang bersifat langsung”.

Lebih jauh dia juga menanggapi “Caption dalam film digunakan untuk menunjukkan sebuah data tentang apa yang dibicarakan, meskipun ada kalanya caption penting dan tidak penting dalam film, ungkapnya

Selama 3 hari hingga hari ini sekitar 270 orang telah hadir dalam pemutaran antologi film pendek ini.

Di akhir diskusi, Shinta mengatakan dia cukup senang karna masih ada kawan kawan dari produksi film komersil yang menjelajahi sisi lain dari film industri yaitu bergerak secara indie.Jadi kalau orang membicarakan film makassar, mereka tidak lagi mereferensi pada film panjang makassar yang ada dibioskop. Antologi film pendek ini berangkat dari titik yang sama, namun penceritaan yang berbeda, makna berbeda, gaya dan bahasa berbeda.

Ayu Kartika sebagai moderator menyimpulkan dari screening ini kita bisa meihat film dengan cara baru, artinya kita bisa melihat film tidak hanya yang beredar di bioskop saja, tetapi juga dari ruang-ruang kecil yang diciptakan sendiri. (rls)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...