Unjuk Gigi di Kancah Internasional

Selasa, 16 April 2019 - 07:15 WIB
Fitri tengah berdiskusi bersama rekan-rekan kerjanya di kantor pusat Alibaba Group. (ist)

Bermula dari Unhas. Kini, posisinya terbilang strategis di perusahaan multinasional.

OLEH: ANDI ADE AGSA, Makassar

SIAPA bilang anak bangsa tak bisa bersaing di dunia internasional. Fitryani Bukri membuktikan itu. Perempuan asal Makassar itu kini jadi stakeholder perusahaan ternama di Tiongkok.
Yang sering bertransaksi dalam jaringan alias daring (online), pasti kenal Alibaba Group. Apalagi, LinkedIn

Tiongkok baru-baru ini mengumumkan, perusahaan tersebut terpilih sebagai Top Companies.
Fitryani salah satu stakeholdernya. Dia memulai kariernya sejak 2014. Awalnya menjadi Lead AliExpress Service Strategy, kemudian pindah ke team Customer Experience Transformation. Sebelum ke posisinya sekarang sebagai Brand and Social Media Specialist AliExpress.

Kisahnya bermula dari bangku kuliah semester V di Universitas Hasanudin (Unhas). Ketika itu, ia mendapat tawaran untuk belajar bahasa Mandarin di Xiamen University, Tiongkok. Namun, tidak serta merta diterima.
“Saya tolak karena jadwal sehari-hari padat. Tahap terakhir menyelesaikan skripsi, tawaran belajar bahasa Mandarin itu kembali datang. Lalu saya terima,” ungkap perempuan berusia 36 tahun itu, Senin, 15 April.

Usai menamatkan pendidikan jenjang S1 di Unhas dan menggenggam diploma Bahasa Mandarin dari Xiamen University, anak dari pasangan H Bukri dan Hj Syamsuri itu mulai memasuki dunia kerja.
Sebelum ke Alibaba, ia bekerja untuk dua perusahaan multinasional, yakni sebagai senior process executive di P&G, juga channel specialist group di Cisco.

“Awalnya ingin tantangan dan suasana baru setelah 4 tahun bekerja di perusahaan sebelumnya. Mendengar banyak cerita tentang betapa besarnya tantangan bekerja di Alibaba, saya berpikir bahwa inilah tantangan yang selama ini saya cari,” imbuhnya.

Sejalan dengan makin pentingnya Indonesia bagi Alibaba, kata dia, maka kesempatan pun terbuka baginya ketika ada lowongan di AliExpress untuk menangani konsumen AliExpress di Indonesia.

Sebetulnya, perempuan yang akrab disapa Fitri itu tak punya pengalaman maupun latar belakang di e-commerce. Untuk itu, sebelum melamar ke Alibaba, ia mengaku, sengaja menimba ilmu tentang e-commerce kepada teman-temannya yang sudah masuk ke dunia tersebut terlebih dahulu.

“Aku belajar kurang lebih dua minggu, sebelum memasukkan lamaran,” katanya.
Meski demikian, soal kinerja jangan diragukan. Kerja kerasnya berbuah penghargaan di tahun 2017. Fitri menerima dua penghargaan sekaligus dari Alibaba Group sebagai the best motivator skala Service Department dan skala Business Unit AliExpress.

Menurutnya, hal yang paling membuatnya bangga bekerja di Alibaba Group adalah inovasi
teknologi yang dihasilkan. Karena teknologi yang bagi sebagian besar negara-negara lain masih berupa wacana atau rencana, sudah mampu diwujudkan di Alibaba.

“Mulai dari hotel robotik, hingga penghematan waktu 50 persen bagi ambulans dan pemadam untuk tiba di lokasi kejadian berkat city brain berbasis komputasi awan telah diwujudkan,” jelasnya.

Kesan Jack Ma

Fitri bercerita, dirinya dan para pegawai asing lainnya, pernah diundang untuk bertemu dengan pendiri Alibaba Group, Jack Ma.

“Secara khusus Beliau mengundang kami untuk bertemu dan sekadar berbincang tentang bagaimana kami sebagai pegawai asing dapat beradaptasi dengan kultur bangsa Tiongkok dan kultur Alibaba,” tuturnya.
Meskipun sepak terjangnya begitu kencang di kancah internasional, bahkan sekalipun hidup jauh dari kota kelahirannya, ia mengaku, kerap kangen dengan kuliner dan suasana di Makassar.

Makanya setiap pulang kampung, Fitri selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktunya di Pantai Losari, terutama hari Minggu untuk berolah raga bersama warga sekitar.
“Setelah itu berburu kuliner. Seperti coto, konro, hingga melepas rindu dengan kue-kue tradisional yang tak ada di Tiongkok,” tutupnya. (*/rif-zuk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *