Mahasiswa Jangan Hiraukan Politik Dikotomi dan Jangan Golput

Rabu, 17 April 2019 - 09:18 WIB

Fajar.co.id, Makassar — Data dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) mengatakan total jumlah mahasiswa di Indonesia mencapai 7,5 juta orang. Meskipun ini masih terbilang sedikit dibandingkan dengan usia pendidikan kita, mahasiswa tetap memiliki peran penting dalam penguatan substansi demokrasi.

Jumlah ini kemudian menjadi lebih sedikit lagi jika melihat jumlah total mahasiswa Polinas Lp3i Makassar yang hanya berkisar 1000 mahasiswa. Namun persoalan demokrasi substansial sepenuhnya bukan persoalan kuantitas namun persoalan kualitas.

Sekitar 40% mahasiswa/i Polinas tergolong ke dalam pemilih pemula yang artinya masih sangat minim pengalaman dalam sebuah pesta demokrasi. Apalagi tahun ini menjadi tonggak awal pemilihan serentak (Presiden dan anggota legislatif) di dalam sejarah berdemokrasi rakyat Indonesia.

Menurut Humas Polinas Lp3i Makassar, Azwar Wijaya Syam S.Ip.,M.A., mahasiswa Polinas Lp3i Makassar pada khususnya harus tetap ambil bagian dalam sejarah sirkulasi kepemimpinan eksekutif maupun legislatif melalui pemilu ini. Meskipun beberapa bulan terakhir khususnya pilpres menunjukkan politik dikotomi yang sama sekali tidak mendidik pemilih pemula.

Masyarakat dihadapkan pada politik dikotomi yang berpotensi memecah belah yakni pendukung 01 akan dimusuhi oleh pendukung 02 dan pendukung 02 akan dimusuhi oleh pendukung 01. Ini merupakan pendidikan politik yang sarat akan potensi perpecahan yang artinya kurang lebih 50% masyarakat Indonesia akan memusuhi kita ketika memilih paslon tertentu.

Belum lagi masalah buzzer politik yang saling perang berita bohong dan hoaks yang sama sekali tidak berbasis kepada program-program yang positif.

“Menghadapi fenomena politik ini, bagaimanapun mahasiswa polinas jangan apatis dan jangan golput sebab mahasiswa akan kehilangan identitas jika acuh terhadap demokrasi yang notabene sejak awal digagas oleh kelompok mahasiswa,” tegasnya.

Bukan hanya itu, Polinas Lp3i harus berbangga terhadap salah satu program yang menjadi andalan kedua paslon yaitu sistem pendidikan yang link and match dengan dunia kerja. Di mana program link and match ini sudah diterapkan oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (Lp3i) sejak tahun 1989.

Lp3i adalah pelopor sistem pendidikan link and match sehingga mahasiswa Polinas Lp3i harus ambil bagian dalam pemilu akbar ini dan harus menjadi pengawal program pemerintah dalam sistem pendidikan yang link and match siapapun yang akan terpilih nanti.

Demokrasi adalah sistem sirkulasi kepemimpinan dengan berdasar kepada suara terbanyak dan warga negara harus menghormatinya. Jadi siapa pun yang terpilih dialah yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden yang sama-sama harus dihormati dan taati, tidak ada tawar-menawar lagi. (Humas Polinas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.