Berkarya Sebut Pileg Tidak Murni Suara Rakyat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Berkarya Sulsel menyebut pemilihan legislatif diwarnai politik uang yang masif. Sehingga DPD Berkarya Sulsel menilai suara Pileg tidak murni suara rakyat.

Anggota Mahkamah Partai Berkarya, Erwin Kallo mengatakan pihaknya bersama tim pemenangan dan relawan sudah turun langsung melakukan pemantauan lapangan. Dan hasilnya, kata dia, money politik masif terjadi di tengah masyakarat.

“Hasil pemilu yang ada tidak mencerminkan suara murni masyarakat. Kami turun langsung ke beberapa TPS sangat tidak steril. Sangat mudah adanya kecurangan karena tidak adanya penjagaan ketat,” kata Erwin, Kamis 18 April.

Caleg DPRD Sulsel Dapil Makassar B ini menyatakan bahkan timnya berhasil menangkap relawan salah satu caleg dari partai lain yang hendak melakukan money politics. Amplop yang berisi kartu nama dan uang pecahan Rp50 ribu itu disita oleh relawan Berkarya.

“Tabiat incumben, caleg partai baru yang kita dapatkan itu sangat merusak demokrasi. Mereka bahkan ada serangan fajar 200 ribu per suara. Orang saya menangkap orang caleg partai baru dengan isi amplop uang Rp50 ribu. Ada buktinya,” katanya.

Dengan masifnya money politics itu, Berkarya kata Erwin tak dapat berbuat banyak. Sebagai partai baru, para caleg hanya rutin sosialisasi dengan metode diskusi. “Untuk main uang, kami tidak. Suara berkarya murni,” kata Erwin.

Dia menyebut, beberapa TPS di Kelurahan Tamalanrea Berkarya menang di beberapa TPS, termasuk di daerah pesisir, Lantebung. “Memang kami banyak turun sosialisasi di sini dan terbukti meski mereka diberi serangan fajar tetap saja memilih berkarya,” katanya.

Selain itu, dari pantauannya dia juga menemukan proses rekapitulasi suara yang sangat rawan terjadinya kecurangan. Misalnya, penghitungan sampai tengah malam dan minim pengawasan. Bahkan saksi-saksi pun sudah tidak berada di TPS.

“Kami pesimis, apakah ini nanti tercermin di hasil akhirnya. Saya tidak menuduh penyelenggara, tetapi dengan mudahnya terjadi kecurangan. Tidak ada saksi partai, yng menentukan adalah KPPS. Kalau seorang caleg ada main mata dengan KPPS, bagaimana sementara tidak ada penjagaan ketat,” kesal Erwin.

Hasil Pileg 2019 ini, kata Erwin, hasilnya tidak mencerminkan suara rakyat. Sehingga, rakyat juga jangan banyak menuntut sama wakilnya di Senayan, DPRD Provinsi maupun DPRD kabupaten kota. “Kita tidak bisa mengharapkan wakil rakyat amanah karena cara-cara meraih kemenangan itu yang salah.” (rul)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...