Gelombang Tinggi, Nelayan di Cilacap Berhenti Melaut

FAJAR.CO.ID, CILACAP – Ribuan nelayan di Kabupaten Cilacap tidak melaut karena gelombang tinggi di Samudra Hindia, selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mencapai enam meter, kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap Sarjono.

“Mayoritas nelayan tidak melaut karena menggunakan perahu berukuran kecil. Nelayan-nelayan dengan kapal berukuran lebih dari 10 GT (Gross Tonage) yang sudah di tengah laut berusaha berlindung di tempat aman, sedangkan yang masih di Cilacap tidak berani melaut,” katanya di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (18/4).

Menurut dia, jumlah kapal berukuran di atas 10 GT yang sudah berangkat melaut dan berlindung di tempat aman sekitar 100 unit, sedangkan yang tidak berangkat melaut sekitar 200 unit termasuk yang berukuran 5-10 GT. Sementara untuk kapal-kapal berukuran kurang dari 5 GT atau kapal kecil yang tidak melaut sekitar 5.000 unit.

Selain karena ada gelombang tinggi, kata dia, arus airnya sangat kencang dan saat sekarang sedang pasang. “Ketika airnya surut, biasanya akan terjadi gelombang tinggi karena adanya daya tarik,” kata Sarjono.

Ia mengakui nelayan tidak melaut bukan semata-mata karena gelombang tinggi, namun juga saat ini sedang masa paceklik sehingga tidak banyak ikan yang dapat ditangkap.

Dia memperkirakan perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam waktu dekat akan segera memasuki musim angin timuran sehingga diharapkan berbagai jenis ikan kembali keluar agar dapat ditangkap oleh nelayan.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan saat sekarang terdapat pola Sirkulasi Eddy di utara Papua.

“Pola angin di wilayah utara Indonesia umumnya dari Barat Laut hingga Timur Laut dengan kecepatan 3-15 knot, sedang di wilayah selatan Indonesia umumnya dari timur-selatan dengan kecepatan 3-20 knot,” katanya.

Ia mengatakan kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudra Hindia, selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat, Laut Sawu bagian selatan, perairan selatan Kepulauan Tanimbar, dan Laut Arafuru, sehingga berdampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Samudra Hindia yang berlaku hingga tanggal 21 April 2019.

“Dalam hal ini, tinggi gelombang 2,5-4 meter berpeluang terjadi di perairan selatan Cilacap, perairan selatan Kebumen, perairan selatan Purworejo, dan perairan selatan Yogyakarta. Sementara tinggi gelombang 4-6 meter berpeluang terjadi di Samudra Hinda selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta,” katanya.

Terkait dengan hal itu, dia mengimbau wisatawan yang berkunjung ke pantai untuk berhati-hati dan tidak berenang atau mandi terutama di wilayah pantai yang terhubung langsung dengan laut lepas agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, kata dia, semua pihak yang melakukan aktivitas di laut diimbau untuk memperhatikan risiko angin kencang dan gelombang tinggi terhadap keselamatan pelayaran, yakni nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil agar mewaspadai angin dengan kecepatan di atas 15 knot dan tinggi gelombang lebih dari 1,25 meter.

“Jika memungkinkan, nelayan diimbau untuk tidak melaut terlebih dahulu karena tinggi gelombang lebih dari 1,25 meter sangat berbahaya bagi kapal berukuran kecil,” katanya.

Ia mengimbau operator tongkang agar mewaspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter. Kapal feri diminta waspada kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter dan kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau pesiar waspada kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter.

“Dimohon kepada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir, sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi serta wilayah pelayaran padat, agar tetap selalu waspada,” tegasnya.

(ant)