Hitung Cepat: Sampling atau Prediksi?

0 Komentar

Oleh: Ardy Arsyad (Pemerhati dan Pengajar Ilmu Statistik Direktur Pattingalloang Muda Institute)

PENGGUNAAN hitung cepat atau Quick Count untuk memprediksi hasil pilkada adalah era baru demokrasi kita.
Sejak diperkenalkan pada Pemilu 2004, hitung cepat membuat kita sebagai masyarakat pemilih, tidak perlu menunggu lama, untuk memastikan siapakah pemenang. Bagi si Pemenang, tidak perlu menunggu berhari-hari untuk membuat pidato kemenangan, dan bagi yang kalah bisa segera menelepon ke si pemenang untuk mengucapkan selamat. Semuanya terjadi kurang dari 6 jam sejak ditutupnya pemungutan suara.

Namun, seberapa besarkah hasil Hitung Cepat dapat digunakan untuk menjadi dasar prediksi hasil pilkada? Itu tergantung dari seberapa tepat metode yang digunakan sebagai aplikasi ilmu statistik dan peluang. Sebenarnya Hitung Cepat lebih merupakan teknik sampling ketimbang prediksi. Hitung Cepat merupakan teknik untuk mengukur karakteristik populasi hanya dengan melihat sampel yang jumlah sebagian kecil dari populasi.

Ilmu statistik sudah berkembang dari Matematika. Sejak Pierre Simon de Laplace, ilmuwan kesayangan Napoleon Boneparte pada Abad ke-18, mengatakan bahwa kejadian alam yang tidak pasti ini bisa dimodelkan secara matematis dengan statistik dan probabilitas. Oleh karena itu, bisa dibuat prediksinya pada hal yang tidak pasti tersebut. Kejadian alam itu termasuk juga karateristik manusia sebagai mahluk sosial, bagian dari alam. Karakteristik alam dan sifat poppulasi manusia umumnya dapat dilambangkan dengan distribusi normal, yang secara simpel dapat dikatakan bahwa ekstremitas karateristik hanya berada pada prosentase kecil, sementara moderate mendominasi populasi.

Sampel adalah sebagian dari populasi. Semakin banyak sampel yang dikumpulkan, semakin mendekati populasi. Misalnya kita ingin melihat tingkat pencemaran merkuri pada kerang di Pantai. Maka untuk mengetahui hal ini, sampel kerang untuk kemudian diuji kadar raksa di dalamnya. Semakin banyak sampel kerang yang mewakili seluruh bentang pantai, maka semakin tepat tingkat keterwakilan sampel pada populasi kerang di Pantai.

Hanya saja, pada populasi yang sangat banyak dan tingkat sebaran yang secara geografis sangat luas, maka mengambil sampel mendekati jumlah populasi tidaklah efisien. Dibutuhkan dana yang sangat mahal, dan waktu yang lama. Oleh karena pola karakteristik yang terdistribusi normal, maka sampel dengan jumlah tertentu dapat mewakili karakteristik populasi secara keseluruhan. Ilmu Statistik sudah mampu mengejawantahkan, mengingat pengembangan bagian dari ilmu matematika sudah cukup lama.

Untuk dapat memprediksi hasil pemilihan umum, maka perlu dilakukan sampling dimana kuantitas sampling dapat mewakili populasi tersebut. Biasanya metode sampling yang dipakai adalah gabungan metode stratifikasi sampel dan kluster sampel atau dikenal dengan nama multistage random sampling. Metode ini sangat efisien karena tidak dibutuhkan TPS yang banyak, namun keakuratan hasilnya tergantung penentuan TPS yang di-kluster. Lembaga survei harus mampu mengetahui anatomi populasi dan sebaran pilihan politiknya dari setiap pilkada. Jika dana yang tersedia cukup besar, maka dilakukan stratifikasi survei. Artinya seluruh kabupaten/kota disurvei, Proporsi jumlah sampel TPS terpilih ditentukan dari proporsi jumlah total TPS masing-masing Kabupaten/Kota. Penentuan TPS apa saja yang dipilih dilakukan secara random.

Tingkat akurasi metode ini dilambangkan dengan derajat kepercayaan. Umumnya pada distribusi normal, tingkat kepercayaan 99% dengan keragaman 0,5. Pemilihan tingkat kepercayaan yang tinggi ini menuntut jumlah sampel TPS yang banyak. Misalnya saja, pada Pilkada gubernur Sulsel 2018 sebagai contoh, jika ingin sampling dengan tingkat kepercayaan 99%, maka jumlah pemilih yang harus disurvei sebesar 657.571 pemilih atau hanya 11% dari total pemilih. Secara rata-rata, jumlah pemilih per TPS di Sulsel menurut data KPU adalah 349 pemilih. Dengan dasar ini maka, TPS yang dijadikan sampel adalah 657.571 pemilih dibagi 349 pemilih per TPS, didapatkan 1884 TPS. Jumlah ini sama dengan 11% dari total TPS. Menurut teori, maka margin of error yang didapatkan adalah 1,15%, artinya hasil yang didapatkan plus minus 1,15%.

Jika seluruh sampel sebanyak 1884 TPS disebar ke dalam 24 kabupaten/kota, maka jumlah TPS sebagai sampel tidaklah sama sebarannya karena ditentukan oleh proporsinya. Misalnya Makassar dengan proporsi TPS 15,5% dari total TPS se-Sulsel, maka jumlah sampel TPS 294 TPS, sementara Selayar dengan proporsi yang hanya 1,73%, maka hanya 33 TPS. Demikian pula Kabupaten Bone dengan proporsi 8,8% maka sampel TPS-nya sebanyak 165 TPS. Sebaran jumlah sampel TPS pada Kabupaten/kota menurut proporsi masing-masing. Penentuan TPSnya pada tingkat kecamatan dan desa dilakukan secara acak.

Dengan metode yang runtut dan jelas, maka Hitung Cepat akan memberikan prediksi yang mendekati kondisi riil di lapangan. Dalam banyak kasus, hasil antara Hitung Cepat dan rekapitulasi KPU tidaklah jauh berbeda. Hitung Cepat adalah teknik sampling yang dilakukan pada hari-H pemilihan dengan akurasi hasil lebih baik dari prediksi berbasis survei dilakukan sebelum pemilihan. Hanya saja, perlu kiranya lembaga survei tidak hanya memberikan hasil Hitung Cepat namun selalu menyertakan metode dan kriteria yang dipakai dalam Hitung Cepat. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...