Hindari Tradisi Mengerikan, Gadis Iraq Bakar Diri

Jumat, 19 April 2019 - 20:53 WIB

FAJAR.CO.ID–Dua pekan. Waktu berpikir bagi Mariam tak cukup lama. Hanya solusi ekstrem yang terpikir. Di tengah musim panas, dara 22 tahun itu mandi dengan bensin dan membakar diri sendiri.

Penduduk Provinsi Misan, Iraq, tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit tahun lalu. Namun, nyawanya tak tertolong. Akhir tragis bagi perempuan yang mencoba melawan nasibnya.

Pikiran Mariam telanjur kalut. Dia tak ingin menikah dengan sepupu satu klannya. Mahasiswa itu merasa masa depannya seharusnya lebih cemerlang. ”Dia (sepupu laki-laki, Red) sudah menikah dan punya banyak anak. Dia buta huruf, sedangkan Mariam merupakan mahasiswa,” ujar Haydar Saadoun.

Pejabat suku Bani Lam itu merasa sedih jika harus mengingat insiden tersebut. Semua berawal dari kekasih Mariam yang melamar ke rumah keluarganya. Keduanya merupakan kawan kuliah. Dan Mariam tentu setuju lebih dulu. ”Tapi, semua saudaranya menolak. Mereka bilang, mereka berhak menentukan suami bagi dia karena nahwa,” ujar warga Kota Amarah itu.

Nahwa merupakan hukum tradisional di beberapa suku Iraq. Hukum itu memberikan hak kepada pria-pria di klan untuk menolak lamaran untuk anggota perempuan mereka. Mereka lebih senang menikahkan anggota perempuan mereka dengan sepupu satu klan.

Di Iraq, nama belakang mereka menentukan status, jaminan pekerjaan, hingga jodoh. Namun, Mariam yang sudah mengenyam pendidikan tinggi menolak tradisi tersebut.

Kalau saja Saddam Hussein masih memerintah, pelaku praktik nahwa bakal diganjar dengan keras. Sejak 1959, pemerintah Iraq melarang praktik yang mengekang kebebasan perempuan. Namun, sejak kekacauan pada 2003, hukum suku kembali merekah.

Bahkan, imbauan Grand Ayatollah Ali Sistani, pemimpin tertinggi kaum Syiah Iraq, tak mempan. Tradisi-tradisi mengerikan itu kembali lagi. Bukan hanya nahwa, melainkan juga praktik yang lebih tragis seperti fasliya.

Karima al Tai, aktivis hak perempuan di Misan, tahu benar bagaimana mengerikannya praktik itu. Sepupunya sendiri menjadi korban. ”Dua puluh tahun lalu, ada konflik antarsuku. Dan satu pria dari suku lawan terbunuh,” ungkap Karima. Menurut dia, itu adalah awal penderitaan perempuan.

Berdasar fasliya, sebuah klan bisa menawarkan perempuan sebagai tanda perdamaian. Karena itu, suku Tai pun menawarkan lima perawan sebagai pengganti nyawa pria yang tewas 20 tahun lalu.

Sahar, sepupu Karima, saat itu masih belia. Dan sejak itu dia dilecehkan suami dan keluarga mertuanya. ”Anak-anaknya disebut keturunan fasliya,” kata Karima. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.