Ekspektasi dan Realitas Politik

Oleh: Mustajab Al-Musthafa (Analis Politik LP3S)

SETIAP orang tentu cenderung idealis, ingin sesuatu yang sempurna. Tapi itu dalam alam pikiran yang masih membutuhkan usaha untuk merealisasikannya. Dalam banyak hal, realitas yang dicapai tidak sesuai yang ada dalam benak/pikiran. Begitu pun dalam dunia politik.

Ekspektasi boleh saja tinggi melangit, tapi janga lupa bahwa ada banyak faktor yang bisa membuat realitas politik tak sejalan dengan itu. Dalam konteks pemilu misalnya, seorang peserta pemilu bisa saja yakin menang dengan berdalil terhadap respons pemilih terhadap kampanyenya, tapi respons itu belumlah keputusan politik. Orang yang hadir memiliki banyak motif. Di sini bisa terjadi kekeliruan jika itu dijadikan ukuran untuk sebuah kemenangan.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalihkan pilihan, dimana pilihannya memang ada. Oleh pihak yang jelas dan tegas telah menyatakan dukungannya pun masih bisa berubah. Karena sebelum kertas suara tercoblos, peluang perubahan itu masih ada. Ingat, bahwa politik objek dan subjeknya adalah manusia, yang punya kemerdekaan memilih apalagi dengan sistem pemilihannya berlangsung tertutup (rahasia).

Politik itu dinamis sebagaimana dinamisnya sikap manusia dalam merespons sesuatu dalam kehidupan ini. Jika ada dua orang maka sangat mungkin ada dua sikap politik yang berbeda. Demikian pula selebihnya. Maka sekali lagi, keliru jika sebuah kemenangan dalam suatu kontestasi politik diukur dari respon calon pemilih saat kampanye.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...