Kucari Khatib Itu

0 Komentar

Oleh: M. Qasim Mathar

SAYA salat Jumat di masjid Raya sebuah kabupaten di Sulsel, kemarin. Khatib memulai khutbahnya dengan menyinggung pemilu yang dilaksanakan pada 17 April. Saya mengira dan berharap khatib akan mengajak jamaah/ummat agar mengikuti dengan sabar proses dan tahapan pemilu selanjutnya.

Ternyata tidak, Khatib itu justru menyatakan rasa sesalnya. Kenapa ummat Islam yang jumlahnya 85 % di negara ini tidak bersatu dalam menghadapi pemilu, agar hasilnya memberi manfaat kepada ummat Islam? Kenapa mereka tidak menyatukan suara kepada pemimpin yang memperjuangkan Islam?

Dengan pertanyaan demikian, khatib itu menunjukkan kelemahan dirinya. Dia tidak menerima kenyataan bahwa muslim yang mayoritas di negeri ini berada di dua kelompok capres dan di banyak partai yang berbeda-beda aspirasi politiknya. Khatib serupa itu ingin agar ummat Islam yang mayoritas itu sama aspirasi dan piihan politik si khatib. Suatu pandangan yang keliru. Khatib semacam itulah yang mungkin mengotori khutbah selama ini. Berbicara politik, tapi dengan nada miring. Berat sebelah.

Memang pada bulan-bulan dan hari-hari menuju pemilu yang lalu, warga dibingungkan oleh berita hoaks yang mewabah. Kebingungan itu ditambah pula beredarnya khatib yang sulit didefinisikan, apakah dia ustaz atau politisi. Hingga pemilu selesai, khatib/ustaz yang demikian masih berkeliling di mimbar-mimbar masjid dan majlis-majlis pengajian.

Khatib/ustaz yang begitu menyebar eforia yang berlebihan (keterlaluan) kalau merasa menang. Atau, menyebar protes kecurangan yang juga keterlaluan kalau kalah. Khatib/ustaz politisi yang fundamentis tak jarang ikut membuat atau menyiarkan video dan komentar di medsos yang tidak menuntun warga bagaimana beragama dan berpolitik yang benar dan beradab.

Kini setelah pemilu sudah selesai, kita butuh penyiar agama yang membimbing masyarakat untuk tetap cerdas dan beradab menyikapi hasil hitungan cepat (quick count) dan hasil hitungan yang lain yang berbeda dengan hasil quick count. Setidaknya menyiarkan bahwa quick count dan yang lain itu bukan hasil resmi hitungan suara pemilu dari KPU.

Semua itu hanya hitungan bandingan bagi hitungan KPU yang akan diumumkan pada 22 Mei 2019. Nanti akan dilihat bahwa hitungan quick count dan selainnya, sama (dekat) dengan real count (hitungan riil) dari KPU. Atau, berbeda, bahkan berbalikan dengan hitungan KPU. Karena itu, quick count dan hitungan lainnya sesungguhnya mempertaruhkan reputasinya. Jika beda jauh, apalagi berbalikan dengan hasil hitungan KPU, maka hancurlah reputasinya. Tidak akan dipercaya lagi.

Khatib/ustaz yang mencerdaskan dan membangun kedewasaan dan keadaban yang demikian itulah yang dibutuhkan. Dewasa dan beradab menyikapi lembaga-lembaga kepemiluan dan aturan-aturannya. Dan, teramat penting, khatib/ustaz yang mengajak ummat bersikap dewasa menerima hasil pemilu: menang atau kalah. Bukan khatib/ustaz yang ikut mengompori hoaks, kebencian dan permusuhan yang saat ini belum reda betul.

Masih adakah khatib/ustaz yang dengan kesabaran menuntun warga bangsa tumbuh semakin dewasa dan beradab, khususnya dalam beragama dan berpolitik? Jawabannya bisa dicermati pada khutbah Jumat dan pengajian yang mereka sampaikan di tengah kehidupan kita. Saya mencari khatib/ustaz yang baik itu di atas sampah hoaks, kebencian, dan permusuhan, dari antara masjid-masjid dan majlis-majlis pengajian! (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...