Politikus PDIP Sebut Deklarasi Prabowo Hanya Lucu-lucuan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID,JAKARTA— Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Masinton Pasaribu menyinggung aksi deklarasi capres nomor urut 02, Prabowo Subianto yang menyatakan sebagai Presiden terpilih 2019-2024. Menurutnya, aksi itu seperti lucu-lucuan.

Masinton mengatakan, mengklaim kemenangan memang wajar dilakukan. Namun, yang tidak boleh itu mengklaim sudah menjadi pilihan rakyat dan akan menjadi Presiden selanjutnya.

“Siapapun boleh (klaim kemenangan), tapi kalau menyatakan kami lah yang lebih pilihannya rakyat, kamilah yang akan dan sudah menjadi pilihan rakyat dan menjadi Presiden selanjutnya, ini kan jadi lucu-lucuan,” ujar Masinton di diskusi bertajuk ‘Pemilu Serentak Yang Menghentak’ di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Lebih lanjut, Masinton meminta agar para kandidat tidak terlalu reaksioner terhadap hasil hitung cepat atau quick count. Apalagi menyebut hasilnya tidak valid hanya karena, hasil yang dimunculkan tidak sesuai dengan keinginannya. “Para kandidat jangan reaksioner terhadap hasil quick count. Santai saja,” imbuhnya.

Quick count dikatakan Masinton hanya metode ilmiah untuk menyampaikan informasi ke rakyat. Sehingga harus tetap dihormati. Namun, hasil akhir pemilu sendiri bukan berdasarkan quick count, melainkan tergantung hasil hitung resmi KPU melalui tahapan berjenjang.

“Kita hormati metode ilmiah yang harus kita hormati bersama, tidak perlu kita tanggap, reaktif,” jelasnya.

Di tempat sama, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Pipin Sopyan mengatakan aksi deklarasi yang dilakukan Prabowo bukan tanpa alasan. Mantan Danjen Kopassus itu disebut memiliki tim khusus yang sudah melakukan penghitungan sendiri.

“Jadi tentu dasarnya Prabowo memiliki tim khusus untuk menghitung dari berbagai daerah. Dan dilihat memang ada perbedaan dengan data quick count,” kata Pipin.

Pipin pun sempat menyoalkan terkait sistem quick count. Pasalnya hanya menggunakan sample sekitar 2.000 TPS. Padahal jumlah TPS seluruh Indonesia lebih dari 800 ribu. “Ini ironis, seolah semua selesai dengan quick count,” tambah Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi itu.

Sementara itu, Founder Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik (KedaiKOPI), Hendri B Satrio memastikan data quick count merupakan data ril sesuai dengan hasil di TPS yang telah dipilih sebagi sample. Terlepas ada kecurangan, hal itu bukan terletak di dalam proses hitung cepat itu. “Data quick count nggak pernah bohong, data quick count apa adanya,” pungkas Hendri. (JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...