Ujian Dadakan, Peserta Bimtek Literasi Jadi Ketagihan

Sabtu, 20 April 2019 - 20:11 WIB

FAJAR.CO.ID – Bimbingan  Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Hotel Grand Cempaka, Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada tanggal 8-14 April 2019 berlangsung seru dan meriah. Sejumlah 120 orang guru, penyuluh Bahasa Indonesia, serta penggiat literasi dari berbagai komunitas dari 34 provinsi di Indonesia terlihat bersemangat hingga hari terakhir. Mereka tetap setia mengikuti kegiatan hingga usai.

Tetap Bersemangat

Peserta terlihat bersemangat meskipun jumlah total proses pembelajaran mencapai 67 jam. Beragamnya presentasi yang disajikan para peserta di depan dewan juri benar-benar memerkaya pengetahuan dan pengalaman peserta lainnya. Sebut saja Syamsurizal, penyuluh literasi dari Kantor Bahasa Bengkulu. Ia menyampaikan presentasi berjudul “Menanamkan Nilai-nilai Kearifan Lokal pada Anak melalui Literasi Membaca Menulis”.

Difa Stefanie, pegiat literasi dari Yayasan Pustaka Kelana, Rawamangun, Jakarta Timur, menguraikan tentang menulis itu menyenangkan. Sementara salah satu penggiat literasi dari Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, dr Dito Anurogo MSc, menyampaikan presentasinya tentang Dokter Literasi Digital, dengan sub topik Melalui Opini, Menyehatkan Negeri. Dosen Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar itu menyemarakkan suasana malam dengan tembang Macapat “Pangkur” dan olahraga otak berupa senam jari.

Para peserta terlihat bahagia dan ceria. Meskipun saat penilaian ada kelompok yang selesai melakukan presentasi hingga dini hari, namun tidak mengurangi semangat mereka. Jeda waktu istirahat digunakan para peserta untuk beribadah, melakukan dialog, menikmati kudapan, curah pendapat dan pikiran, swafoto, berkenalan, bersinergi, berkolaborasi, dan bertukar informasi tentang literasi dengan sesama peserta. Uniknya, beberapa peserta menawarkan buku hasil karya mereka dan kalung mutiara. Usai acara, ada yang masih intensif berdialektika dan mengobrol santai di pinggir kolam renang hingga larut malam.

Dadakan sehingga Ketagihan

Menariknya, “ujian” yang sering dilakukan secara mendadak membuat peserta menjadi “ketagihan”. Maksudnya, para peserta menjadi lebih bersemangat di dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Terlebih lagi, ada beberapa cenderamata khas dari Gol A Gong sebagai stimulus. Beberapa menit tantangan membuat puisi kontemporer, pantun nasihat, dan Haiku usai dibacakan, seorang peserta langsung memberikan kertasnya kepada panitia. Ia berhasil mendapatkan topi merah dari Singapura sebagai hadiahnya.

Tanggapan

Tanggapan dan komentar positif bermunculan dari kegiatan ini. “Acara ini sangat bagus digelar untuk memberikan pembekalan standar di ranah literasi baca-tulis bagi penggiat literasi (sekolah, masyarakat, penyuluh bahasa) untuk berkiprah di daerah masing-masing. Namun menurut saya, yang lebih penting dari kegiatan pemberian materi itu adalah terjalinnya jejaring literasi di antara peserta dan munculnya kolaborasi kegiatan sekembali di daerah masing-masing. Acara Bimtek lebih kepada wadah para penggiat literasi untuk berinteraksi dan menetapkan kerja-kerja bersama yang akan dilakukan untuk membangun daerah. Langkah awalnya adalah melalui kegiatan bersama antara penggiat dan Balai Bahasa.

“Di ranah sekolah, kami berharap para penggiat literasi juga menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan pemangku literasi lain, seperti: Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, dan warga sekolah. Kolaborasi beragam pemangku literasi ini akan semakin menguatkan Gerakan Literasi Sekolah,” ucap Billy Antoro, Sekretaris Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud.

Lain halnya dengan Erni Wardhani MPd, guru bahasa Indonesia dari SMKN 1 Cianjur. Ia mengatakan, “Bimtek literasi penting sekali diadakan. Apalagi kalau yang menjadi peserta kemarin, seluruhnya dapat menindaklanjuti kegiatan. Jadi jangan terputus oleh 30 orang yang terpilih. Kalau perlu diadakan lagi semacam penggojlokan sehingga pada saat terjun ke masyarakat, kita benar-benar sudah siap dan mampu menjadi perwakilan yang memang dibutuhkan. Literasi bukan hanya sekadar kita mampu membuat karya, akan tetapi bagaimana kita mampu menyebarluaskan ilmu kepada orang banyak sehingga orang lain pun tidak hanya sebagai penikmat, akan tetapi mampu menjadi pelaku. Dengan ini, kita bersama masyarakat sudah berada di tingkatan bernalar aras tinggi.”

Seorang penulis 30 novel, Asri Rakhmawati, mengatakan bahwa Bimtek Literasi Baca Tulis membangun persepsi baru dalam gerakan literasi di masyarakat. Selanjutnya, pegiat literasi TBM Rumah Pena, Banten yang juga dikenal dengan sebutan Achi TM ini mengakui banyak ilmu yang ia dapatkan dari para narasumber dan mentor yang luar biasa.

“Kegiatan ini begitu inspiratif, penuh pembelajaran, meningkatkan kompetensi personal demi meningkatkan kualitas literasi pemuda zaman milenial. Pemahaman terkait literasi menjadikan kita memahami proses penciptaan dan pemaknaan sebuah pembelajaran,” ujar Rahmad Azazi Rhomantoro, pegiat di Muda Mengajar. (dr Dito Anurogo MSc, pegiat literasi Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, dosen tetap FKIK Unismuh Makassar, dokter literasi digital). (rls)

Laporan: dr Dito Anurogo MSc

(Pegiat Literasi FLP Sulawesi Selatan, Dosen FKIK Unismuh Makassar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.