Budaya Mengelola Sampah di Indonesia Masih Rendah


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Indonesia Solid Waste Association (InSWA), Ir. Sri Bebassari, M.Si mengatakan budaya membuang sampah di Indonesia masih memprihatinkan. Belum lama ini foto penyu berdarah karena tertusuk sedotan plastik, ikan hiu mati dengan ratusan kilogram pastik di perutnya, menjadi viral.Ini menjadi bukti bahwa kepedulian masyarakat terhadap keselamatan lingkungan masih rendah. “Kita baru memiliki undang-undang pengelolaan sampah tahun 2008, bandingkan dengan Jepang yang sudah memilikinya sejak 100 tahun lalu, dan Singapura 40 tahun lalu,” jelas Sri dalam siaran persnya yang diterima Fajar.co.id, Minggu (21/4).Baca juga Plastik, Dimusuhi Namun DibutuhkanUndang-Undang No 18. tahun 2018, tentang Pengelolaan Sampah, menurut Sri, itupun belum cukup menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia. Dijelaskan Sri, setidaknya ada 5 aspek pengelolaan sampah yang harus dipenuhi, termasuk sampah plastik.

1. Aspek Hukum

Meskipun terlambat, Indonesia akhirnya memiliki Undang-Undang No 18. tahun 2018, tentang Pengelolaan Sampah.

2. Aspek kelembagaan

Ini adalah langkah konkret pelaksanaan undang-undang pengelolaan sampah mulai dari kementerian hingga tingkat RT, yang sayangnya, belum berjalan baik.

3.Aspek pendanaan

Mengelola sampah tidak murah. Menurut Sri, ada biaya yang bisa dihitung berapa rupiah seharusnya APBN dan APBD menganggarkan dana untuk pengelolaan sampah, termasuk biaya yang harus dikeluarkan setiap rumah tangga.”Di Singapura, satu rumah tangga membayar 200 ribu setiap bulan, maka tidak heran sampah bisa dikelola dengan sangat baik,” jelas Sri yang sudah meneliti tentang pengelolaan sampah selama 39 tahun.

4. Aspek sosial budaya

Budaya bersih harus dimulai sejak dini. Kata Sri membuat orang sadar bersih cukup 1 jam. Coba kirim orang Indonesia ke Singapura. Di sana mereka langsung patuh membuang sampah, tetapi begitu kembali ke Indonesia kebiasan membuang sampah sembarangan kembali lagi.

Komentar

Loading...