Menginspirasi, Malu Lihat Anak-anak Hafal Alquran, Pemicu Anggota Polri Ini Jadi Hafiz

Minggu, 21 April 2019 - 15:40 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Di balik kesehariannya sebagai personel Polri, sosok Brigadir Polisi Kepala (Bripka) Nasrullah ternyata adalah seorang hafiz (Penghafal) Alquran.

Pria 32 tahun ini merupakan personel Direktorat Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulsel dan bergabung di Tim Khusus (Timsus) Polda Sulsel.

Sosok Nasrullah sendiri sejatinya tak begitu menonjol. Layaknya reserse lainnya, tugas utama Nasrullah tak pernah lepas dari aksi dan tindak lapangan. Hari-harinya disibukkan dengan para pelaku kriminal.

Catatan kariernya sebagai seorang reserse cukup cemerlang. Sejak bergabung di Tim Khusus Polda Sulsel, berbagai kasus kriminal berhasil dia ungkap bersama timnya. Mulai dari kasus berkategori ringan, hingga yang menjadi atensi pimpinan Polri. Mulai dari kasus begal hingga kasus pembunuhan.

Nasrullah mengikuti wisuda Hafidz di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Al Imam Antang, Minggu, 21 April 2019.

Sosok Nasrullah yang dikenal sebagai seorang Polisi muncul di antara wisudawan yang notabene adalah para santri.

Diketahui, Nasrullah memang pernah menghabiskan masa pendidikannya di sebuah pesantren di Takalar. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang anggota Polisi.

“Di masa SMP hingga SMA, saya memang menghabiskan pendidikan saya di Pesantren,” kisah Nasrullah.

Namun, saat itu, Nasrullah mengaku tak begitu banyak menghafal ayat Al Qur’an. Obsesi dan cita-citanya menjadi seorang anggota polisi menjadi salah satu sebab.

“Saat SMA, saya sempat kehilangan hafalan karena fokus mempersiapkan diri mendaftar untuk menjadi polisi,”

Polisi memang sudah menjadi impian Nasrullah sejak kecil. Hingga akhirnya, impiannya itu tercapai seperti saat ini.

“Dan setelah beberapa tahun menjadi Polisi, hafalan saya makin lama makin hilang,” tuturnya.

Situasi ini pun diakuinya sempat membuatnya gelisah. Dia mengaku gamang dan gusar dengan hal tersebut.

“Saya tidak tahu. Hati dan pikiran saya merasa tidak bisa terima. Saya juga kadang malu melihat diri saya yang kalah dengan anak-anak yang sudah mampu menghafal Alquran,” kenangnya

Di tengah kegusaran itulah, Ulla, sapaan karibnya, kembali menguatkan diri mendalami ilmu yang dulu pernah digelutinya. Ditengah aktivitasnya mengejar penjahat, Ulla mampu meneruskan hafalan Alquran meski dengan harus belajar sendiri.

Semaksimal mungkin, waktunya disisihkan untuk terus belajar dan menghafal ayat demi ayat.

“Metodenya ya mengulang setiap beberapa ayat perhari. Minimal 1 halaman 1 hari,” ujarnya.

Metode itu telah dilakukan sejak 6 bulan terakhir. Dan alhasil, saat ini, hafalan ayah satu anak ini pun sudah mencapai 10 Juz. Sisa 20 juz lagi untuk menyempurnakan impiannya tersebut.

Ditanya soal teknik hafalan, Nasrullah mengaku tidak memiliki teknik khusus. Ia pun hanya belajar secara otodidak dalam satu tahun terakhir.

Pun terkait dengan waktu. Nasrullah mengaku tidak memiliki waktu khusus dalam menghafal Alquran.

“Kadang mengulang hafalan sembari bertugas di lapangan. Nanti kalau ada waktu luang, saya kadang mengisinya dengan menemui ustaz yang bisa membimbing,” kenangnya.

Ke depan, Nasrullah mengaku memiliki target untuk khatam 30 juz. Waktu yang ditargetnya pun tidak main-main, yakni satu tahun ke depan.

“Insya Allah, saya tidak mau kalah dengan adik-adik santri yang sudah khatam 30 juz di usia belasan tahun,” tutupnya. (eds)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.