Plastik, Dimusuhi Namun Dibutuhkan

Minggu, 21 April 2019 - 15:59 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai disodori fakta bahwa bumi semakin tidak sehat untuk ditinggali. Laut, yang merupakan sumber kehidupan dan pusat ekosistem di planet ini tercemar limbah plastik berjuta-juta ton setiap tahunnya.

Foto penyu berdarah karena tertusuk sedotan plastik, ikan hiu mati dengan ratusan kilogram pastik di perutnya, menjadi viral dan menyadarkan sebagian orang betapa ‘jahatnya’ plastik.

Kepala Balai Teknologi Polimer BPPT, Ir. F. M Erny S. Soekotjo M.Sc saat ditemui di kantornya di kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang, mengakui bahwa dalam 5 tahun terakhir, plastik sangat dimusuhi. Menurut Erny ini akibat edukasi tentang plastik yang masih sangat kurang.

“Konotasi tentang plastik di masyarakat saat ini adalah sebatas tas plastik atau kantong plastik pembungkus makanan. Padahal, setiap hari kita sangat bergantung pada plastik. Bangun tidur kita sikat gigi menggunakan sikat gigi terbuat dari plastik,” jelas Erny dalam siara persnya yang diterima Fajar.co.id Minggu (21/4).

Bisa dikatakan, produk plastik dapat ditemukan from basket to rokcet, dari dapur hingga luar angkasa. Salahkah plastik? Mungkinkan kita menemukan pengganti plastik dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan?

Dijelaskan Erny, plastik ditemukan dan kemudian berkembang pesat, karena memiliki banyak keunggulan. Ringan, tahan lama, anti korosif, murah, dan praktis. Maka dalam waktu singkat plastik menjadi idola baru dan menggantikan logam dan kayu, untuk berbagai kebutuhan.

“Plastik atau polimer adalah material yang baru ditemukan, lebih muda dibandingkan logam. Dan sampai sekarang, secara material, plastik masih bisa berkembang. Masih sangat terbuka untuk mengembangkan produk baru yang cuztomize sesuai kebutuhan,” ujar Erny.

Satu-satunya kelemahan plastik adalah tidak mudah diuraikan oleh bakteri atau mikroorganisme sehingga mencemari lingkungan. Dipaparkan Erny, polimer memiliki berat molekul sangat besar karena merupakan gabungan dari monomer-monomer yang lebih kecil dalam proses yang disebut polimerisasi.

Semakin banyak monomer yang digabung, maka plastik yang dihasilkan akan semakin kuat dan padat. Sebagai gambaran, agar kuat sebagai wadah, proses polimerisasi harus diulang sampai 10.000 kali. “Inilah yang menjadikan berat molekulnya besar sekali dan sulit dimakan bakteri,” tambah Erny.

Di balik sorotan terhadap sampah plastik yang mencemari bumi, sebenarnya industri plastik adalah industri yang paling rendah energi. Pengolahan plastik sangat rendah energi, hanya sekitar 3,1 KWH dibandingkan pengolahan industri logam (13,9 KWH), kaca, gelas, bahkan kertas. Inilah mengapa plastik disukai dan diproduksi besar-besaran oleh industri.

“Masalah terkait penggunaan plastik sebenarnya bukan pada material, namun cara memperlakukan plastik hingga ia berakhir di laut,” jelas Erny.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.