Plastik, Dimusuhi Namun Dibutuhkan


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tanggal 22 April kita memperingati Hari Bumi. Beberapa tahun terakhir, masyarakat mulai disodori fakta bahwa bumi semakin tidak sehat untuk ditinggali. Laut, yang merupakan sumber kehidupan dan pusat ekosistem di planet ini tercemar limbah plastik berjuta-juta ton setiap tahunnya.Foto penyu berdarah karena tertusuk sedotan plastik, ikan hiu mati dengan ratusan kilogram pastik di perutnya, menjadi viral dan menyadarkan sebagian orang betapa ‘jahatnya’ plastik.Kepala Balai Teknologi Polimer BPPT, Ir. F. M Erny S. Soekotjo M.Sc saat ditemui di kantornya di kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang, mengakui bahwa dalam 5 tahun terakhir, plastik sangat dimusuhi. Menurut Erny ini akibat edukasi tentang plastik yang masih sangat kurang.”Konotasi tentang plastik di masyarakat saat ini adalah sebatas tas plastik atau kantong plastik pembungkus makanan. Padahal, setiap hari kita sangat bergantung pada plastik. Bangun tidur kita sikat gigi menggunakan sikat gigi terbuat dari plastik,” jelas Erny dalam siara persnya yang diterima Fajar.co.id Minggu (21/4).Bisa dikatakan, produk plastik dapat ditemukan from basket to rokcet, dari dapur hingga luar angkasa. Salahkah plastik? Mungkinkan kita menemukan pengganti plastik dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan?Dijelaskan Erny, plastik ditemukan dan kemudian berkembang pesat, karena memiliki banyak keunggulan. Ringan, tahan lama, anti korosif, murah, dan praktis. Maka dalam waktu singkat plastik menjadi idola baru dan menggantikan logam dan kayu, untuk berbagai kebutuhan.

Komentar

Loading...