Apa Kabar Kesadaran Manusia Akan Plastik?

Selasa, 23 April 2019 - 07:06 WIB
Manap Trianto. (ist)

Oleh: Manap Trianto (Mahasiswa Program Pascasarjana di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM))

BEBERAPA tahun terakhir, bumi pertiwi seperti tidak pernah absen dari rasa prihatin. Lingkungan semakin tak bersahabat, bencana alam terjadi dimana-mana, limbah yang tidak dikelola dengan baik dan sampah plastik yang kian hari semakin menghawatirkan.

Setelah ditemukannya plastik sebagai alat serbaguna dalam belanja dan mengemas segala kebutuhan manusia. Namun, di balik plastik yang praktis banyak ancaman yang ditimbulkan. Kini sampah plastik yang digunakan sering tidak terhitung jumlahnya. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut hanya sekali pakai. Diperkirakan pada tahun 2040 jumlah sampah plastik dilautan jumlahnya meningkat, siapkah manusia mengalami berbagai krisis akibat sampah plastik?

World Economic Forum pada 2016 menyatakan bahwa, ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra bumi ini. 8 juta ton plastik mengalir ke laut setiap tahunnya, padahal plastik bisa berumur ratusan tahun dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi.

Sampah plastik yang telah dilepas secara perlahan akan merusak dan membinasakan bagian terkecil dari proses alam, bakteri, dan lain-lain. Plastik lambat laun akan terurai, namun tidak sepenuhnya platik akan hilang. Hasil uraian plastik akan berubah menjadi mikroplastik yang akan termakanoleh organisme laut dan terakumulasi terus dan menerus di laut bahkan menjadi momok bagi banyak hewan laut hingga termakan oleh manusia sendiri.

Permasalahan Sampah plastik terus terjadi, akhir-akhir ini semakin sering laporan ditemukannya sampah plastik dalam tubuh hewan laut, dan ini bukan hanya sekali ini terjadi. Ada sederet kasus seperti seekor penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik, tetapi berhasil diselamatkan setelah sedotan itu ditarik keluar dari hidungnya, seekor paus sperma bahkan ditemukan mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan 5,9 kilogram sampah yang ada di tubuhnya. Botol minuman plastik, jaring, tali rafia, sobekan terpal, bahkan tutup galon ditemukan dari dalam perut paus itu. Dan faktanya, berdasarkan data dari Departemen Perdagangan Amerika tahun 1999, sampah laut terdiri dari 80 persen sampah yang berasal dari manusia, dan sisanya 20 persen sampah berasal dari proses alam.

Manusia sebagai penyumbang terbesar sampah plastik bumi entah sampai kapan baru akan menyadari jika bumi ini sedang tidak baik-baik saja karena plastik. Dengan segala informasi yang sangat mudah diakses,bukan lagi menjadi batasan kita untuk tidak mengetahui dampak dari penggunaan plastik yang sangat mengerikan ini. Setelah mengetahui dampaknya, harusnya kita berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik dikehidupan sehari-hari.

Berawal dari diet plastik, kita sudah beraksi menjaga bumi ini. Lalu apa itu terlalu sulit dilakukan?
Dengan kesadaran tinggi, seharusnya kita dapat berlaku bijak terhadap pengunaan plastik dengan menanamkan budaya mengurangi penggunaan plastik bagi diri sendiri dan orang-orang sekitar terlebih dahulu. Kita menghimbau diri sendiri agar menggunakan kantong belanja kain untuk menggantikan plastik untuk membawa barang belanjaan.

Kantong kain ini memang terbilang lebih mahal dari pada kantong plastik, namun lebih aman digunakan. Atau kita dapat mencoba membuat kantong belanjaan sendiri di rumah dengan menggunakan kaos bekas yang sudah tidak dipakai.

Selain menghemat biaya, hal tersebut juga dirasa efektif dalam mengurangi tingkat pembuangan sampah plastik di Indonesia. Kita juga bisa meminimalisir penggunaan sedotan plastik dengan menggantinya dengan reuseable straw. Beberapa alternatif yang dapat digunakan antara lain: stainless straw, glass straw, bamboo straw dan sillicon straw. Bahkan untuk skala besar seperti rumah makan dan hotel, dapat menggati sedotan plastik dengan sedotan dari kertas yang lebih ramah lingkungan.

Peringatan hari bumi bukan hanya menjadi ceremony, namun menjadi momentum untuk mengajak seluruh manusia untuk memiliki kesadaran pentingnya pengurangan penggunaan plastik.
Pertanyaannya, apakah manusia mau berpatisipasi dan berperan aktif dalam gerakan ini? Bukankah manusia memang diciptakan sebagai penjaga bumi?

Cara yang efektif untuk menjaga bumi adalah sekali lagi ditekankan pada kesadaran diri dari setiap individu. Plastik masih boleh digunakan, namun hanya sewajarnya saja, tidak perlu berlebihan. Tinggal bagaimana individu tersebut menyikapi hal ini.Dengan melakukan hal-hal sederhana kita turut berpartisipasi dalam menjaga bumi kita. Bumi yang sehat akan meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.