Gaduh Pilpres

Oleh: Nurul Ilmi Idrus

ADA yang unik dari pemilihan umum (pemilu) kali ini karena dilakukan secara serentak antara pemilihan presiden (pilpres), pemilihan legislatif (pileg) di tingkat nasional (DPR-RI), provinsi, dan kabupaten/kota, serta pemilihan DPD, 17 April 2019 lalu. Yang menggembirakan adalah antusiasme pemilih yang melampaui 77,5% target KPU.

Jika pileg dan pil-DPD relatif senyap, pilpres justru gaduh segaduh-gaduhnya. Kegaduhan pilpres bervariasi, hasil quickcount (QC) misalnya, yang awalnya Prabowo-Sandi mengungguli paslon Jokowi-Ma’ruf, yang hasilnya tiba-tiba terbalik dalam waktu singkat (setelah iklan) dan stabil hingga sekarang diikuti dan diperkuat oleh analisis para pengamat.

Ini diikuti dengan munculnya Jokowi-Ma’ruf dan elite pendukungnya mengiyakan hasil QC, meski tetap menunggu hasil resmi real count (RC) dari KPU. Sayangnya, kemenangan versi QC ini tidak ditunjukkan dengan ekspresi kegembiraan, sebagaimana ekspresi mereka ketika nonton bareng hasil QC. Spekulasi-pun bermunculan.

Perdebatan yang tidak nyambung terkait QC adalah antara keilmiahan metode yang digunakan (yang sebenarnya bukan itu yang dipertanyakan) dan bagaimana suara itu dikerjakan oleh siapa dengan hasil demikian. Kenapa dipertanyakan? Karena hasilnya sangat berbeda. KPU protes karena bukannya dilaporkan perbedaan yang terjadi, hal ini malah diviralkan.

KPU membela diri bahwa kesalahan itu adalah human error (HE) atau kesalahan teknis menurut salah satu partai pendukung kosong satu dalam sebuah konferensi pers. Serupa dengan hasil QC yang stabil, HE ini juga stabil, yakni kosong satu naik, kosong dua turun. Jika Badan Pemenangan Nasional (BPN) mempertanyakan hasil QC, itu karena BPN mengklaim memegang RC (C1 plano), tak peduli apakah isinya mengungguli paslon siapa, sehingga ada bukti perbandingan. Inipun diperdebatkan dan belakangan muncul spekulasi: pihak kosong satu “berburu C1”.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : asrie


Comment

Loading...