Cara Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Puasa

Rabu, 24 April 2019 - 21:39 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ramadan sudah di depan mata. Seperti yang kita ketahui bahwa di bulan ramadan daya tahan tubuh gampang menurun. Tantangan ini disebabkan karena terbatasnya asupan nutrisi sementara menjalani aktivitas berintensitas sama dengan hari-hari biasa bahkan lebih aktif.

“Di bulan suci aktivitas malah tambah banyak. Bagusnya sebelum puasa sudah siapkan diri dan taya tahan tubuh,” kata dr. Suci Sutinah Diah Suksmasari, Medical Advisor of PT Bayer Indonesia pada peluncuran Redoxon Triple Action di Jakarta, Selasa (23/4).

Menurut para ahli puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kendati demikian, bagi kita yang tinggal di kota besar terutama Jakarta akan banyak manfaat puas yang terkikis. Hal ini disebabkan banyak faktor, diantaranya polusi, perubahan cuaca dan asupan nutrisi yang kurang.

“Sebagus-bagusnya persiapan diri untuk puasa ada saja tantangan di bulan ramadan. Bayangkan saja aktivitas sama dengan biasa, selama aktivitas gak ada asupan atau asupan berkurang. Ada yang buka makan digeber ada juga yang gak, bagaimanapun daya taha tubuh pasti menurun, ditambah lagi panas dan hujan gak bisa diprediksi,” katanya.

Terlebih lagi di minggu pertama ramadan tubuh harus beradaptasi dengan perubahan waktu makan. Jika di hari biasa makan besar tiga kali sehari yakni sarapan di pagi hari, makan siang dan makan malam. Sedangkan saat puasa sarapan pagi diganti dengan makan sahur dan buka puasa saat maghrib.

Lebih lanjut dr. Suci menjelaskan bagaimana polusi menyebabkan penurunan daya tahan tubuh di bulan ramadan. Menurut ia, polusi akan menyebabkan oksidatif stres. Oksidatif stres adalah keadaan di mana jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralkannya. Terjadinya oksidatif stres menyebabkan antioksidan dalam tubuh berkurang.

“Sebelum puasa sudah terpapar polusi ditambah puasa, ditambah makanan yang tidak pernah kita konsumsi sebelumnya. Makan aja, gak ada pilihan untuk lebih selektif. Padahal selama puasa waktu bagus mengubah metabolisme tubuh kita,” jelas dr. Suci.

Dr. Suci menjelaskan saat sistem kekebalan tubuh turun maka tubuh gampang sakit. Padahal saat berpuasa waktu yang tepat untuk mendulang pahala dengan beribadah, tapi jika badan sakit maka kita tidak bisa menjalankan ibadah dengan maksimal.

“Padahal puasa waktunya silahturahmi beribadah. Kalau sakit kita gak puasa. Saat badan panas, demam, gak enak otomatis kurang aktivitas beribadah,” bebernya.

Guna mengantisipasi gangguan kecukupan asupan gizi selama berpuasa, selain protein, karbohidrat kompleks dan buah, tubuh juga membutuhkan tambahan asupan bernutrisi termasuk vitamin dan mineral.

Tanpa diimbangi asupan bergizi yang mengandung mikronutrien mencukupi seperti vitamin dan mineral, daya tahan tubuh dapat menurun dan risiko sakit pun meningkat. Karenanya, konsumsi gizi berimbang dan suplemen saat sahur menjadi kunci untuk menjaga daya tahan tubuh selama berpuasa.

Sama seperti hari biasa saat ramadan selain asupan makronutrient kita juga harus memenuhi kebutuhan mikronutrie seperti Vitamin C dan Zinc. Mengapa demikian? karena saat puasa tubuh pasti akan mengalami penurunan mikronutiernt.

“Bekerja lebih keras saat puasa dan menghadapi tantangan yang sebelumnya sudah ada. Please lifestyle asupan makanan tidak sehat. Kalau pola hidup sudah sehat pertahankan. Sekali-kali boleh asal jangan berlebihan karena apapun yang berlebihan tidak baik,” jelasnya.

Varian baru Redoxon Triple Action mengandung tinggi vitamin C, vitamin D dan zinc untuk mendukung tiga lapis pertahanan daya tahan tubuh.

“Ramadan adalah bulan istimewa bagi muslim di seluruh dunia. Bayer meluncurkan suplemen Redoxon Triple Action untuk mendukung ibadah puasa sehingga masyarakat Indonesia yang berpuasa dapat tetap sehat, aktif dan dapat menjalankan seluruh kegiatan Ramadan,” ujar Kinshuk Kunwar, Director of PT Bayer lndonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.