Detik-detik 5 Mahasiswa Diseruduk Mobil Polisi, Dua Tewas

Rabu, 24 April 2019 - 10:46 WIB

FAJAR.CO.ID, PALANGKA RAYA–Dua mahasiswa, Syahril Malau dan Ritson Pangaribuan, menjadi korban kecelakaan maut.

Keduanya tewas setelah diterjang mobil Chevrolet double gardan yang oleng, tepat di sisi jalan arah Bundaran Besar, Palangka Raya, Minggu (21/4). Tak jauh dari SDN 1 Menteng, Jalan Yos Sudarso.

Nasib beruntung masih berpihak kepada rekan mereka, Apriani Ningsih Simarmata, Yogi Sidabutar, dan Lamtio Simatupang. Mereka selamat.

Yogi pun mencoba mengisahkan detik-detik kecelakaan maut yang menewaskan dua sahabatnya itu. Pemuda 22 tahun itu masih tampak syok ketika ditanya peristiwa yang tak pernah mereka sangka sebelumnya.

Saat itu ia bersama kekasihnya, Lamtio Simatupang, menikmati kesunyian menjelang pergantian hari. Berboncengan.

Ketika melintas, tiga rekannya yang duduk santai di atas sepeda motor di bahu jalan menyapa. Meminta dirinya mampir. Keduanya memutuskan bergabung. Namun keduanya terlebih dahulu mampir ke Toko Waralaba. Sekitar 20 meter dari lokasi nongkrong teman-temannya.

“Pas lewat, pacar saya bilang ‘kau di panggil tuh’. Tapi kami berbelok ke Indomaret dulu untuk berbelanja,” kisahnya ketika ditemui di rumah sakit.

Kemudian bergabung dengan teman-temannya. Ngobrol sana-sini. Tak lama kemudian, melihat mobil oleng. Matanya silau akibat sorotan lampu mobil yang tepat mengarah ke tempat nongkrong mereka. Cepat sekali. Tak sempat lagi bibir berucap untuk meminta teman-temannya menghindar. Ia langsung melompat.

“Mobil oleng ke kiri dan kemudian menabrak kami,” ungkap pemuda asal Sumatera Utara ini sambil terbata-bata. Dia sedikit menyesal karena tangannya tak sempat meraih tubuh pacarnya ketika melompat dari atas sepeda motor. “Tertinggal di atas sepeda motor,” ungkapnya.

Diduga mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, ketika mencoba mengamati lokasi kejadian, tak tampak bekas rem yang membekas di aspal jalan.

Setelah benturan hebat itu, lanjut Yogi, ia melihat pacar dan teman-teman tergeletak. Sepeda motor ringsek. Seorang pria berbadan tegap dengan baju seragam berwarna cokelat keluar dari mobil. Warga berkerumun.

Yogi berteriak sejadi-jadinya. Memeluk tubuh pacarnya yang berlumuran darah. Tak berdaya. Kakinya lemas tatkala melihat teman-temannya tergeletak tak bergerak di atas trotoar.

Sampai Senin malam, Lamtio masih dalam kondisi kritis. Alat bantu pernapasan masig terpasang. Indikasi awal yang disampaikan rekan-rekannya, Lamtio mengalami gegar otak. “Ujar dokter, dia (Lamtio, red) gegar otak kak,”ucap mereka.

Mobil berwarna gelap yang terlibat insiden itu diketahui dikemudikan AKP MA. Bertugas di Polres Palangka Raya. Malam itu, ia menuju Pos Bundaran Besar, usai memantau pleno rekapitulasi surat suara di Kantor Kecamatan Jekan Raya.

Perwira Pertama yang bertugas merencanakan dan mengendalikan administrasi operasi kepolisian itu, diduga mengalami kelelahan dalam bertugas mengawal rangkaian kegiatan pemilu. Kelelahan itu berujung kelengahan. Tidak memperhatikan kondisi fisik dan mata. Akhirnya celaka.

Diduga pengemudi mengalami microsleep (episode pendek tidur yang berlangsung 1-30 detik yang terjadi selama mengantuk). Faktor kelelahan dalam mengawal dan mengamankan jalannya pemilu,” jelas Kapolres Palangka Raya, AKBP Timbul RK Siregar kepada awak media di RSUD dr Doris Sylvanus.

Unit Laka Satlantas Polres Palangka Raya pun sudah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Ada 4 saksi. Olah tempat kejadian perkara sudah dilakukan. “Sedangkan jenazah korban meninggal sudah diterbangkan langsung ke pihak keluarga di Sumatera Utara,” ungkapnya.

Keluarga korban Afriani Ningsih Simarmata yang menemaninya di RS Siloam, meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Hingga saat ini Afriani masih menjalani perawatan di RS Siloam, sembari menunggu kedatangan orang tuanya dari Kota Medan.

“Kami minta sesuai prosedur aja. Kalau mau lebih jelas, nanti sama orang tuanya. Kebetulan sudah berangkat ke sini dari Medan,” ucap salah satu keluarga korban yang tak mau namanya disebutkan.

Baca Juga: Pelaku Pembunuh Satu Keluarga di Wajo Diduga Stres

Di tempat terpisah, teman sekamar Afriani di Mes Putri 2 di Jalan Keminting 2 mengatakan, saat malam kejadian itu, Afriani ingin keluar mencari makan. Dikatakannya, Afriani adalah sosok yang tidak pernah nongkrong, apalagi keluar saat tengah malam.

“Cuma keluar cari makan aja katanya malam itu. Biasanya nggak pernah segala nongkrong itu. Apalagi sudah tengah malam,” sebutnya. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.