Intip Karya Peradaban Dalam Pameran Tetap Galnas

Rabu, 24 April 2019 - 07:48 WIB

FAJAR.CO.ID–Pernah terbesit belajar sejarah peradaban Indonesia melalui karya seni rupa? Kira-kira bisa tidak, ya? Tentu bisa. Sebab Galeri Nasional Indonesia (Galnas) tengah menggelar pameran tetap.

Ratusan karya dihadirkan seolah seperti menyibak tabir sejarah bangsa ini. Ada tiga ruang yang bisa Anda kunjungi. Pertama, linimasa peradaban seni rupa di Indonesia. Tak perlu repot-repot memanggil Doraemon untuk meminjam pintu ke mana saja.

Sebab, Anda hanya perlu menggunakan kaki untuk melangkah perlahan. Menyelusuri setiap ruangan. Menghirup aroma histori yang kental di ruang linimasa karya seni rupa Indonesia.

Dimulai dari 1800 hingga 1930-an pada saat kolonialisme dan orientalisme tumbuh berkembang. Salah satu karya yang menarik perhatian adalah milik Raden Saleh.

Dengan gaya romantisisme dan menggunakan cat minyak pada kanvas, Raden Saleh menampilkan visual yang sangat dramatis. Ada dua kapal seolah bertarung dengan derasnya ombak. Tarikan alam dari setiap gelombang seperti mengoyak habis.

Pengunjung melihat koleksi lukisan zaman dulu di Galeri Nasional. Hanung Hambara/Jawa Pos

Romantisisme muncul pada abad ke-18 di Eropa Barat. Gerakan tersebut menekankan emosi yang kuat sebagai sumber dari pengalaman estetika. Seperti rasa takut, ngeri, hingga takjub yang dialami seseorang. “Raden Saleh membuat romantisisme dengan baik,” kata kurator Bayu Genia Krishbie kepada koran ini.

Bayu mengatakan, karya bertajuk Kapal Karam Dilanda Badai itu menyiratkan gejolak jiwa Raden Saleh. Jiwa yang terombang-ambing antara keinginan menghayati dunia imajinasi dan menyatakan dunia nyata.

Bergerak ke ruang berikutnya, yakni ke ruang yang menampilkan masa nasionalisme dan dekolonisasi pada 1930-1940 an. Bayu menyebutkan, setiap waktu yang ditampilkan menghadirkan representasi visual kondisi masyarakat.

Selain Raden Saleh, ada pelaku seni lainnya yang juga turut mencuri perhatian. Yaitu, S. Sudjono. Salah satu karyanya bertajuk Tjap Go Meh.

Dengan dimensi ukuran 73 x 52 cm, karya Sudjono menampilkan sebuah visual yang menggambarkan tengang lapisan masyarakat. Sebuah pesta dengan keriuhan dari semua pengunjung.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu menjelaskan, Tjap Go Meh bukan sebuah karya yang sederhana. Kompleksitas makna terbangun dari tangan dingin Sudjono. Ada ironi dalam visual perayaan keagamaan Tionghoa tersebut.

Ironi itu, lanjut Bayu, dapat dilihat sebatas pada karnaval yang meluapkan berbagai emosi dengan absurd. Ya, gaya realisme tampak pada karya Tjap Go Meh milik Sudjono. “Lebih jauh, karya juga mengandung komentar ketimpangan sosial,” tambahnya.

Setelah puas berkeliling di ruang nasionalisme dan dekolonisasi, saatnya masuk ke masa pembentukan identitas nasional pada 1950-an. Anda akan menemukan patung karya milik Edhi Sunarso berukuran 20 x 35 x 68 cm.

Di ruang sebelahnya, ada masa tansisi prahara politik-kebudayaan. Yang terjadi di era 1960-an. Salah satu karyanya milik Misbachtamrin bertajuk Tuyul (casper) Ngamen Bersama Rakyat Jelata.

“Setelah itu ada ruang 1970 masa orde baru dan depolitisasi kesenian. Lalu, sebelahnya ada masa keemasan orde baru dan puncak pembangunan. Di ruang terakhir, masa 1990-2000-an yang menampilkan karya di era globalisasi hingga demokratisasi,” papar Bayu.

Nah, di samping ruang pamer lini masa, ada ruang koleksi asal internasional dan kode D. Bayu menyampaikan, kode D menampilkan 20 tahun akuisisi koleksi Galnas sejak 1999-2019. Total untuk semua karya yang ditampilkan dalam pameran tetap mencapai 211. Rencananya, pameran akan dihelat hingga tiga tahun ke depan.

“Persiapannya, saya riset bersama tim sejak Agustus tahun lalu. Banyak orang yang terlibat juga, ada dewan kurator dan penasihat juga,” sambung Bayu.

Penikmat seni Aisha Salsa menuturkan, koleksi yang paling ngena di hatinya ada di ruang 1990-2000-an. Ada satu layar besar yang mengurutkan peristiwa penting di era sebelum dan sesudah 1990-an.

“Termasuk pertumbuhan internet. Kalau koleksi di awal ruangan agak kurang paham. Kalau di ruang 1990-2000-an lebih berwarna,” ujar siswi SMA kelas dua itu. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.