Tetapkan Tersangka, KPK Sebut Sofyan Basir Punya Peran Penting

FAJAR.CO.ID, JAKARTA--Proses panjang dilalui KPK untuk menjerat Sofyan Basir. Selasa, (23/4), lembaga antirasuah itu akhirnya menetapkan Dirut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tersebut sebagai tersangka dalam skandal suap proyek pembangunan PLTU Riau 1.

Sofyan menjadi tersangka keempat dalam perkara yang diawali operasi tangkap tangan (OTT) pada 13 Juli tahun lalu itu. Mantan Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) tersebut menyusul tiga orang lain yang lebih dulu diproses KPK. Yaitu, mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR, Eni Maulani Saragih, mantan Menteri Sosial (Mensos), Idrus Marham, dan pemegang saham mayoritas Blackgold Natural Resources, Johannes Budisutrisno Kotjo.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menyebut Sofyan berperan penting dalam skandal suap tersebut. Diawali dari buntunya permohonan anak perusahaan Blackgold, PT Samantaka Batubara, untuk mendapatkan proyek independent power producer (IPP) PLTU Riau 1 pada 2015. “Akhirnya, Johannes Kotjo mencari bantuan agar diberi jalan berkoordinasi dengan PLN,” kata Saut di gedung KPK kemarin.

Dalam persidangan perkara PLTU Riau 1 di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kotjo disebutkan meminta bantuan elite Partai Golkar agar bisa berkoordinasi dengan Sofyan. Kebetulan, Kotjo merupakan teman dekat Setya Novanto (Setnov) yang kala itu menjabat ketua Fraksi Golkar di DPR. Atas arahan Setnov, Kotjo berkoordinasi dengan Eni agar bisa bertemu dengan Sofyan.

Eni kemudian mengajak Sofyan dan Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Supangkat, Iwan Santoso ke rumah Setnov pada 2016. Dalam pertemuan itu, Setnov meminta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa III. Namun, proyek tersebut sudah menjadi jatah pihak lain. Sofyan pun mengarahkan Eni dan Supangkat berkoordinasi tentang proyek lain, yakni PLTU Riau 1.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...