Nurhayati Subakat, Sosok Perempuan Hebat di Balik Suksesnya Brand Kosmetik Lokal

Jumat, 26 April 2019 - 16:08 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Suatu kebanggaan bagi kaum perempuan pasalnya, Nurhayati Subakat yang merupakan Founder & CEO PT Paragon Technology and Innovation (PTI) mendapat gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Seperti diketahui bahwa Nurhayati merupakan perempuan di balik kesuksesan perusahaan yang mengelola merk kosmetik lokal yakni Wardah, Make Over, Emina dan perawatan rambut Putri.

Ia merupakan perempuan pertama yang menerima gelar Honoris Causa dari total sembilan orang penerima gelar ini sejak pertama kali diberikan pada tahun 1962.

Pemberian gelar doktor kehormatan kepada Nurhayati telah dilakukan pada 5 April lalu di Sasana Budaya Ganesha, Kota Bandung.

Gelar kehormatan ini diberikan karena Nurhayati dinilai telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan keilmuan dibidang kosmetik serta telah menghasilkan karya yang inovatif untuk masyarakat.

Gelar kehormatan tersebut merupakan suatu penghargaan dan apresiasi kepada tokoh masyarakat yang dinilai telah berjasa dan berkarya bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, dan berjasa dalam bidang kemanusiaan atau kemasyarakatan.

ITB pertama kali memberikan penganugerahan gelar kehormatan ini pada tahun 1962 kepada Presiden Republik Indonesia (RI) pertama Dr. Ir. Soekarno. Sebelum Nurhayati Subakat, terdapat delapan tokoh masyarakat Indonesia yang sudah menerima gelar kehormatan tersebut, yaitu Dr. Ir. Soekarno Presiden RI pertama disusul Dr. Ir. Sediatno.

Gelar kehormatan selanjutnya diterima oleh Prof. Dr. Ir. J. Rooseno, Dr. Soetarjo Sigit, Dr. Ir. Hartanto Sastrosoenarto, Prof. Dr. Emil Salim, Dr. Ir. Arifin Panigoro. Dan selanjutnya Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI keenam serta dua tokoh internasional untuk Nobel Laureate yaitu  Prof. Peter Agre dan Prof. Finn Erling Kydland.

“Kembali ke kampus yang saya cintai, untuk menerima penganugerahan gelar Doktor Kehormatan merupakan hal yang tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di ITB 48 tahun yang lalu,” kata Nurhayati.

Menjadi salah satu dari sembilan orang hebat yang mendapat gelar doktor kehormatan merupakan anugerah terindah bagi Nurhayati. Terlebih lagi, ia merupakan perempuan pertama yang mendapat gelar tinggi dari ITB.

“Saya merasa tersanjung dan terhormat, apalagi ketika mengetahui bahwa dari sembilan orang penerima Honoris Causa di ITB dalam kurun waktu 7 dekade, saya merupakan perempuan pertama yang menerima gelar ini, dan dua di antaranya adalah Nobel Laureate

Sebelumnya ada Dr. Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama; Dr. Ir. Sediatno; Prof. Dr. Ir. J. Rooseno; Dr. Soetarjo Sigit; Dr. Ir. Hartanto Sastrosoenarto; Prof. Dr. Emil Salim; Dr. Ir. Arifin Panigoro; Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia keenam; serta kedua Nobel Laureate tersebut adalah Prof. Peter Agre dan Prof. Finn Eriing Kydland.

Saya semakin bersemangat dan antusias ketika mendengar bahwa penghargaan ini ditujukan untuk menginspirasi para wisudawan dan wisudawati magister dan doktor, agar semakin bersemangat dalam berkarya di masa depan.

ITB adalah kampus yang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam hidup Nurhayati dan merupakan kampus keluarga. “Di keluarga saya, enam dari delapan bersaudara adalah lulusan ITB.

Suami dan dua putra saya juga lulusan ITB, serta 200 dari 1.100 staf kami adalah alumni ITB. Untuk ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para dosen ITB yang telah mendidik putra putri terbaik bangsa,” jelas Nurhayati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.