Hari Kebudayaan dan Agenda Kota yang Berkelanjutan

Sabtu, 27 April 2019 07:44

Oleh: Zulkhair Burhan (Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa)Pemandangan tak lazim terlihat di seantero kota Makassar pada Senin (1 April 2019). Berbagai lapisan masyarakat mulai dari anak sekolah sampai pegawai negeri maupun karyawan swasta ramai-ramai menggunakan pakaian adat khas Bugis-Makassar-Mandar-Toraja.Di beberapa titik kota dilaksanakan karnaval yang menampilkan parade pakaian dan atraksi kesenian daerah serta berbagai kemeriahan lainnya. Pusat kemeriahan ini terlaksana di Benteng Rotterdam dimana Pemerintah Kota Makassar menggelar berbagai pertunjukan dan sekaligus mencanangkan tanggal 1 April sebagai Hari KebudayaanKota Makassar yang dituangkan dalam Peraturan Wali Kota.Apa yang dilakukan oleh pemerintah Kota Makassar ini bisa kita lihat paling tidak dari dua sudut pandang. Yang pertama, seperti yang disampaikan oleh Wali Kota Makassar bahwa pencanangan Hari Kebudayaan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk terus melestarikan budaya daerah dan sekaligus menjadi momentum dan ruang untuk memperkenalkan berbagai ragam bentuk dan nilai budaya daerah kepada semua generasi, sehingga kita dapat menghargai keberagaman dan menjadikannya sebagai alat untuk merekatkan anak bangsa sesuai amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.Kedua, saya kira penting –dan sebaiknya- untuk melihat inisiatif pencanangan Hari Kebudayaan ini sebagai bagian dari upaya untuk mengintegrasikan aspek kebudayaan dalam agenda untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) khususnya agenda ke-11 yaitu Kota dan Masyarakat yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities).

Bagikan berita ini:
4
8
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar