People Power?

Sabtu, 27 April 2019 07:52

Oleh: M. Qasim MatharSebagai bekas aktifis mahasiswa, saya tetap percaya bahwa tidak ada gerakan mahasiswa, seperti turun ke jalan atau demonstrasi (demo), tanpa setahu pemimpinnya. Bahkan, sangat mungkin, demo itu adalah atas perintah pemimpinnya.Kalau ada demo tanpa setahu pemimpinnya, itu pasti demo yang liar. Demo liar bisa dengan segera diatasi oleh aparat. Adapun demo atas pengetahuan atau, bahkan perintah pemimpinnya, tidak mudah diatasi, karena ia dirancang atau menjadi bagian dari strategi perjuangan mahasiswa.Akhir-akhir ini sering kita baca dan dengar istilah people power. Istilah tersebut dipahami sebagai demo besar-besaran, yang melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan pemuda, yang bertujuan menjatuhkan pemerintah atau penguasa yang sedang memerintah atau berkuasa.People power yang pernah terjadi pada zaman kita, antara lain people power di bawah pimpinan Ayatullah Khomaini yang menjatuhkan Kaisar Reza Pahlevi di Iran (1979). Demo besar dipimpin oleh Corazon Aquino, janda pemimpin oposisi Benigno Aquino yang terbunuh, yang menjatuhkan Presiden Ferdinand Marcos di Filipina. Di Indonesia terjadi dua kali people power yang menumbangkan Presiden Soekarno (1965) dan Presiden Soeharto (1998).Agaknya, syarat utama berhasilnya people power ialah bersatunya sebanyak-banyaknya, kalau tidak seluruhnya, elemen masyarakat dan dengan satu tujuan yang sama (menjatuhkan rezim penguasa) pada semua elemen masyarakat itu. Itulah yang terjadi di Iran, Filipina, dan Indonesia waktu itu. Tanpa persatuan semua elemen itu, baik aksi maupun tujuannya, maka people power tersebut sulit berhasil (gagal).

Bagikan berita ini:
2
10
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar