Hak Politik Idrus Marham Tak Dicabut, Begini Kekecewaan ICW

Minggu, 28 April 2019 - 17:39 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Indonesia Corruption Watch (ICW) menyesalkan putusan Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, yang tidak mencabut hak politik Idrus Marham terkait kasus suap PLTU Riau-1. Putusan ini pun mengacu tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam putusan di PN Tipikor Jakarta, mantan Menteri Sosial itu pada Selasa (23/4) telah divonis tiga tahun penjara serta denda Rp150 juta subsider dua bulan kurungan penjara.

“Sebenarnya pencabutan hak politik ini untuk menimbulkan efek jera atas perbuatan yang sudah dilakukan, dan untuk mencegah agar orang-orang ini tidak lagi menduduki jabatan publik,” kata peneliti Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Kurnia Ramadhana di kantornya, Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Minggu (28/4).

Pencabutan hak politik, kata Kurnia, diatur dalam Pasal 18 ayat (1) huruf d UU Tipikor jo Pasal 10 jo Pasal 35 KUHP. Idrus sendiri merupakan seorang politikus, seharusnya KPK dalam tuntutannya dapat menggunakan aturan tersebut.

Alasan Idrus tidak dicabut hak politiknya, mengutip pernyataan jaksa, karena perbuatannya dilakukan saat belum menjabat sebagai Menteri Sosial atau jabatan publik.

“Memang tidak mewajibkan penegak hukum mencabut hak politik jika orang ini anggota DPR atau DPRD, tapi anggapan kita kalau itu berpotensi seperti Idrus Marham ketika dia vonis dan telah bebas bida menduduki jabatan politik, seharusnya itu juga bisa dicabut oleh KPK,” tegas Kurnia.

Baca Juga: Bencana Bengkulu: 10 Meninggal, 12.000 Mengungsi

Sebelumnya, Idrus disebut terbukti secara sah dan meyakinkan menerima hadiah senilai Rp2,25 miliar pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Ia terbukti melakukan tindak pidana korupsi itu dalam kasus suap PLTU Riau 1.

Idrus terbukti melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.