Polisi Sri Lanka Lancarkan Serangan Pada Ekstremis Islam

Minggu, 28 April 2019 - 21:53 WIB

FAJAR.CO.ID, KATTANKUDY–Polisi bersenjata Sri Lanka, Minggu (28 April) melancarkan serangan ke markas besar kelompok ekstremis Islam, National Thawheedh Jamaath. Kelompok ini dicurigai berada di belakang pemboman bunuh diri di gereja dan hotel yang menewaskan lebih dari 250 orang, sebuah Saksi Reuters mengatakan.

Serangan itu terjadi di pangkalan NTJ di Kota Kattankudy timur sehari setelah kelompok itu dilarang di bawah undang-undang darurat baru. Polisi percaya, Zahran Hashim yang diduga sebagai dalang serangan Minggu Paskah, memimpin kelompok atau faksi sempalan untuk melancarkan serangan di Kolombo serta sebuah gereja di Batticaloa di timur.

Serangan bom pada hari Paskah membuat Sri Lanka syok bukan main. Pemerintah di Kolombo benar-benar kebobolan oleh aksi para teroris berkedok Islam itu. Ternyata, para elite politik di negara itu terlalu sibuk bertengkar.

”Kalau kami (United National Party) mendapat petunjuk tapi tidak mengambil aksi, pastinya saya mengundurkan diri saat ini juga. Namun, apa yang bisa saya lakukan jika tak ada dalam lingkaran dalam,” ujar Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe, sebagaimana dilansir Agence France Presse.

Ketua United National Party itu menuding negerinya kebobolan karena ulah Presiden, Maithripala Sirisena. Sudah empat bulan dia dan Wakil Menteri Pertahanan, Ruwan Wijewardene, rekan satu partai, tak diundang dalam rapat dewan keamanan negara.

Pemerintahan Sri Lanka memang sedang retak. Koalisi yang dibentuk Sri Lanka Freedom Party dan United National Party pada 2015 itu sedang mengalami perang internal. Puncaknya tahun lalu saat Sirisena mendepak Wickremesinghe dari kursi Perdana Menteri.

Jabatan yang setara dengan wakil presiden di Indonesia tersebut diberikan kepada Mahinda Rajapaksa, lawan Sirisena saat menjadi capres empat tahun lalu. Mahkamah Agung membalik keputusan sang presiden beberapa bulan kemudian. Namun, kedua kubu tetap bersitegang.

Setelah insiden teror, Sirisena seperti melunak. Dia meminta maaf karena sikap kepolisian yang menolak rapat dengan Wickremesinghe.

Baca Juga: Rumah Warga Dihantam Longsor, Pengembang Lepas Tangan

Sebagaimana diberitakan, insiden itu terjadi saat Sirisena berlibur ke luar negeri. Wickremesinghe yang berada di dalam negeri justru sulit mengumpulkan pejabat.

“Bukan rahasia lagi bahwa dua tahun belakangan saya berselisih dengan sebagian pejabat. Sekarang semua pihak harus bersatu dan membangun negara yang damai,” ucap Sirisena. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.