Arsip

Senin, 29 April 2019 07:03

Oleh: Aidir Amin DaudHADIR di Makassar — Kamis pekan lalu — Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Syafruddin mengungkapkan bahwa, sebuah negara atau bangsa bisa dikenal dan dihargai karena sejarah terekam dengan baik. Terekam dalam dokumen-dokumen penting yang dipelihara dan dimiliki negara tersebut.Indonesia termasuk sudah memiliki lembaga kearsipan sejak 48 tahun yang lalu. Indonesia dapat dikategorikan sebagai bangsa yang memahami bahwa tradisi kearsipan yang baik telah merekam semua peristiwa peradaban yang terjadi di negeri.Di hadapan para jajaran Arsip dari seluruh Indonesia, Menteri menyatakan, sudah saatnya insan-insan pengelola arsip diberi penghargaan yang sebaik-baiknya. Misalnya terkait eselonisasi dan sudah saatnya tata kelola arsip dijadikan parameter ukuran penilaian bagi kementerian, pemda dan lembaga negara lainnya.***Pagi itu, saya melihat para arsiparis bergembira mendengar beberapa harapan yang disampaikan oleh Menpan Syafruddin. Gubernur Sulsel, Prof Dr Nurdin Abdullah juga menyampaikan, bagaimana saat awal menjabat Bupati di Bantaeng ia prihatin dengan pengelolaan arsip yang ada.Ia menuturkan di masa lalu bagaimana proses kenaikan pangkat dan golongan seseorang yang bergantung kepada arsip data dirinya, yang kadang-kadang ditata dengan baik. Untuk itu ia melakukan penataan sistem kearsipan termasuk men-digitalkannya sehingga tidak mempersulit proses kenaikan pangkat seorang pegawai.Arsip kadang dianggap suatu proses yang ‘sudah lewat’. Padahal semua dokumen selalu ada perintah untuk diarsipkan. Namun, kita juga mencatat, bahwa begitu banyak aset pemerintah baik pusat maupun daerah, tiba-tiba beralih menjadi milik swasta karena dalam proses di peradilan tidak didukung oleh dokumen yang memadai.

Bagikan berita ini:
9
10
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar