Bantu 12 Ribu Korban Banjir Bengkulu, MRI-ACT Dirikan Lima Posko

Senin, 29 April 2019 - 10:27 WIB

FAJAR.CO.ID, BENGKULU–Banjir di Bengkulu berdampak pada 12 ribu warga. Mereka terpaksa diungsikan ke tempat lebih aman hingga air surut dan kondisi aman.

Selama di pengungsian, para korban itu sangat bergantung terhadap bantuan logistik. Karena akses jalan terputus, mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan makanan sendiri.

Tentunya bantuan dan uluran tangan para dermawan sangat menjadi obat bagi para pengungsi itu. Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun hadir di lokasi pengungsian.

Saat ini tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI-ACT) telah mendirikan lima posko kemanusiaan untuk warga terdampak banjir dan longsor. “Kawan-kawan dari MRI Bengkulu telah mendirikan lima posko kemanusiaan,” kata Apra Julianda Poetra, relawan MRI-ACT, Senin (29/4).

Selain mendirikan posko kemanusiaan, ACT juga mengirimkan logistik berupa kebutuhan untuk para pengungsi seperti makanan siap saji. Bantuan itu diberikan sebagai bentuk keprihatian warga terdampak bencana. “Posko dimaksimalkan untuk mendistribusikan makanan siap saji dan logistik kebutuhan pokok pengungsi,” ucapnya.

Kendati demikian, masih terdapat warga yang tetap bertahan di rumahnya masing-masing. Namun, ACT terus melakukan pemantauan agar tidak terjadinya korban jiwa dalam bencana tersebut. “Warga ada yang bertahan di sekitar rumah dengan mendirikan tenda darurat atau berteduh di posko,” jelasnya.

Untuk diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu telah mendirikan posko pengungsian di 12 titik lokasi. Dengan dibantu oleh aparatur keamanan dan relawan, BPBD bergerak cepat membantu para kprban terdampak bencana.

“Pengerahan tenaga aparat Pemda, POLDA, TNI/Polri, Lanal, BASARNAS, Tagana, ACT, PKPU, MDMC, mahasiswa, Perkumpulan Organisasi Tionghoa Bengkulu, dan organisasi lainnya,” ujar Kepala Pusatdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Salah satu jembatan putus akibat banjir yang menerjang Provinsi Bengkulu. Akibat musibah itu akses antarkota pun terputus. (BNPB).

Menurut Sutopo, perbaikan darurat dilakukan, khususnya untuk mengatasi jalur transportasi dan distribusi bantuan. Untuk mengatasi longsor yang menutup badan jalan pemerintah setempat telah melakukan pembersihan material menggunakan alat berat (escavator) sehingga akses jalan dapat dilalui. Untuk jalan dan jembatan yang putus telah dilakukan survai, pendataan dan pengamanan dengan memasang rambu peringatan di jalan.

Sementara, kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat saat ini adalah sulitnya untuk menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke kabupaten/kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus. Pendistribusian logistik terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor.

“Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Terbatasnya dana/anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana,” paparnya.

Baca Juga: Banjir Enrekang: Sekolah Diliburkan, Pasar Sentral Tutup, dan Jembatan Putus

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan tenaga relawan.

“BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat dihimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia,” pungkas Sutopo. (jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.