Hindari Stres Pasca-Pemilu

Senin, 29 April 2019 06:59

Oleh: Muhammad Rhesa, S.Psi., M.A (Dosen Psikologi Politik UNM dan Peneliti Bidang Politik Human Investa)GELARAN Pemilu serentak telah memasuki pekan kedua pasca terlaksananya pada 17 April lalu. Pemilu tak hanya menjadi penentu siapa pemenang di setiap tingkatan pemilihan, tetapi juga menyisakan konsekuensi psikologis berupa stres bagi politikus bahkan bagi para pendukung jika jagoannya gagal terpilih.Gejala stres pada musim Pemilu saat ini seolah menjadi gangguan yang setia mengikuti momen Pemilu. Pada Pemilu tahun 2009 dan 2014, data Kementerian Kesehatan menyebut ada ribuan caleg yang mengalami stres akibat gagal memenangkan kontestasi politik. Tak heran jika tahun ini pun Kemenkes telah mengimbau jauh sebelum Pemilu diadakan agar semua aparatur fasilitas kesehatan lebih bersiap menghadapi politikus yang stres pasca kalah dalam Pemilu 2019 ini.Tampaknya stres pascapemilu bukan hanya terjadi di negara yang terbilang baru dalam menjalankan demokrasi elektoral. Amerika Serikat sebagai barometer utama demokrasi dunia juga tidak bisa terbebas dari fenomena stres massal pascapemilu.Dikutip dari laporan tahunan organisasi Psikologi terbesar di Amerika Serikat yaitu The American Psychological Association (APA) yang mengeluarkan rilis pada awal tahun 2017, bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, tahun 2016 menjadi puncak jumlah stres terbanyak yang dialami warga Amerika Serikat yaitu 57%.Kondisi tersebut disebabkan oleh kondisi politik Amerika Serikat, warga yang paling banyak mengalami stres adalah mereka para pendukung partai Demokrat (Hillary Clinton) sebanyak 72% sementara yang berasal dari pendukung Partai Republik (Donald Trump) hanya 26% (www.apa.org).

Bagikan berita ini:
5
6
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar