Laporan ke Darat Harus Panjat Pohon Kelapa

Senin, 29 April 2019 - 07:11 WIB
BAWA PULANG. Petugas membawa pulang logistik pemilu dari Pulau Balo-baloang, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep. (HANDOVER/FAJAR)

Gelombang ekstrem sudah terkenal di sepanjang jalur menuju ke Liukang Tangaya. Inilah cerita para petugas.

LAPORAN: SAKINAH FITRIANTI, Pangkep

TINGGI gelombang antara tiga hingga empat meter di perairan Selat Makassar. Namun, itu harus mereka lalui demi terlaksananya pemilu di Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep.

Inilah kecamatan terjauh Pangkep. Wilayahnya sudah berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB). Belasan jam Bripka Stevy Candra Ponto, bersama puluhan petugas lain melintas di perairan ini.

“Pengalaman pertama bertugas di pulau terluar. Medannya cukup berat, sebab saat ini sudah peralihan musim. Jadi kadang kita di laut lepas dapat gelombang sampai tiga meter, disertai hujan dan angin kencang,” ucapnya, kemarin.

Stevy –sapaannya– berangkat dengan menumpang kapal motor yang telah disewa KPU Pangkep untuk memberangkatkan petugas pengamanan beserta logistik. Ia tiba sembilan hari sebelum pelaksanaan pemilu. Kotak suara ia kawal ketat.

Tidur pun hanya sekadarnya saja saat berada di atas kapal yang ditumpanginya. Ia jaga kotak suara jangan sampai terkena air laut saat ombak meninggi tiba-tiba.

Selama 15 jam diperlukan untuk sampai ke pulau tempatnya bertugas. Pulau Balo-baloang Lompo, Desa Balo-baloang, Kecamatan Liukang Tangaya. Stevy menjaga tiga TPS yang ada di pulau itu.

Ia kerap menginap di kantor desa setempat yang merupakan lokasi penyimpanan logistik, sebelum dan setelah pemilu. Hingga akhirnya diangkut lagi ke ibu kota Pangkep.

Saat hendak melaporkan perkembangan pemilu dari tempat tugasnya pun, ia harus memanjat pohon kelapa. Jaringan telekomunikasi sangat terbatas.

Tidak seperti para petugas yang ada di daratan yang bisa setiap saat komunikasi dengan penyelenggara dan pengamanan lain. Bagi mereka yang bertugas di pulau terluar, butuh perjuangan agar dapat terhubung ke ibu kota.

“Harus manjat pohon kelapa untuk dapat jaringan telepon seluler. Itu pun belum tentu terhubung. Butuh perjuangan untuk dapat tembus itu telpon ke darat. Kita sudah panjat pohon. Tetapi untung kalau jaringan lagi bagus. Tetapi kalau tidak, kita turun lagi dari pohon,” jelasnya, lalu tertawa.

Stevy sangat merasakan betapa tertinggalnya masyarakat pulau terluar yang tidak dapat memantau perkembangan informasi saat ini.

“Tidak ada alat komunikasi lain. Jadi warga di sana memang hanya berharap jaringan telepon itu saat memanjat pohon kelapa atau di tempat yang lebih tinggi lagi. Harus hati-hati juga saat dapat jaringan. Karena kalau goyang sedikit signal langsung hilang lagi,” katanya.

Tidak hanya itu, untuk memantau penyelenggaraan pemilu di TPS lain, Stevy harus berkeliling pulau. Menumpang perahu milik nelayan yang melintas. Tetapi, tetap saja harus disesuaikan dengan kondisi cuaca.

Di pulau itu, daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 750 orang. Di sana, mereka terisolasi dalam hal komunikasi antarpetugas. Beruntung, di pulau tempatnya bertugas, kerap muncul jaringan saat memanjat pohon.

“Laporan untuk tiap anggota lintas pulau, tidak bisa terhubung. Tidak ada jaringan di pulau lain. Jadi nanti pada saat bertemu, baru kita laporkan perkembangan di masing-masing pulau tempat tugas. Ada juga alat komunikasi di kantor desa tetapi terbatas,” jelasnya.

Baginya pengamanan di pulau terluar memberikan kesan tersendiri. Termasuk minimnya air bersih yang tersedia. Begitu juga listrik yang masih terbatas. Kebutuhan pangan pun mengkhawatirkan.

“Kebutuhan pangan terbatas. Tidak ada orang bercocok tanam. Buah yang ada di pulau tempat saya bertugas hanya kelapa dan jambu saja. Beras pun terbatas,” ungkapnya.

Beruntung Stevy tetap sehat hingga kembali ke daratan. Tidak tumbang seperti kebanyakan petugas lain. Padahal, dia sempat khawatir terkena malaria.

“Di sana banyak nyamuk. Makanya itu yang kami jaga. Jangan sampai terkena penyakit malaria,” katanya.

Saat ini, Stevy dan rekan-rekannya sudah berada di Pangkajene, ibu kota Kabupaten Pangkep. Kapal yang ditumpanginya bersandar di Pelabuhan Paotere, Minggu dini hari, 28 April. Kini ia kembali bertugas seperti biasanya di Satuan Intelkam Polres Pangkep. (*/rif-zuk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.