Gaya Hidup Halal

Selasa, 30 April 2019 07:04

Pembicara terakhir, Ketua Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia (IWAPI) Sulsel, Ibu Ida Noer Haris yang prihatin tentang komitmen masyarakat Muslim untuk mengadopsi gaya hidup halal. Bahkan Ibu Ida berkisah bahwa penjual Non-Muslim di luar negeri sering mengingatkan bagi pembelanja Muslimah ketika membeli barang yang terbuat dari bahan yang tidak halal. Lalu bagaimana dengan toko dan gerai pada masyarakat kita yang mayoritas Muslim, yang sama sekali tidak pernah ditemukan suasana seperti itu?Dari keempat pembicara ibu inspiratif ini, saya menangkap benang merah dari pandangan mereka bahwa semakin terdapat kesenjangan tentang derasnya perubahan gaya hidup dengan kepedulian pada prilaku hidup halal. Mereka mencermati bahwa gaya hidup halal bukan hanya sebatas simbol pakaian tetapi lebih mendasar adalah dari bahan yang dipakai. Mereka menyoroti tentang perlunya sikap kritis dalam mengonsumsi makanan yang semakin menglobal dan itu dimulai dari anggota keluarga.Dari pandangan ibu-ibu tangguh di atas, saya ingin menutup rangkuman ini dengan menyodorkan salah satu solusi bahwa di tengah globalisasi dan onlinenisasi makanan saat ini, pemicu persoalan tentang kehalalan makanan adalah kecenderungan untuk tidak memungsikan dapur sebagai ruang sosial keluarga, termasuk sebagai tempat menyeleksi ‘ingredients’ yang patut untuk anggota keluarga. Pertanyaan saya, beranikah para aktivis Muslimah sekarang ini menyuarakan ‘gerakan memasak sendiri?’ (*)

Bagikan berita ini:
6
7
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar