Pilpres Endgame

0 Komentar

Oleh: Muh. Quraisy Mathar (Dosen UIN Alauddin)

SAYA baru saja menonton sequel akhir film Avengers yang diberi label “endgame”. Satu kata menutup tontonan tersebut “wah”. Entah kenapa saya jadi teringat pilpres yang seharusnya juga sudah endgame.
Mungkin karena efek pertarungan panjang yang seakan-akan tak berujung, namun toh… akan endgame juga.

Menarik, rumah produksi Avengers memilih sequel akhir dengan label “endgame” bukan “game over”. Hal inilah yang juga memantik otak kiri dan kanan saya secara bersama melirik sembari tersenyum ke arah pilpres. Pesta demokrasi yang memang selalu endgame, bukan game over, sebab selalu di-restart pada waktunya.

Sebut saja, Natasha, Tony Stark (iron man), dan Thanos adalah para petarung yang gugur dalam sequel Avengers. Mereka menjadi cerminan para calon dan timses yang gugur saat bertarung dalam sequel pilpres. Sebut juga, ribuan masyarakat Wakanda, Asgard, dan Titan yang gugur dalam “clash of the titans” (pertarungan para raksasa) dalam sequel Avengers. Mereka juga menjadi cerminan masyarakat yang gugur saat kontestasi pilpres berlangsung.

Pilpres yang sejatinya menjadi pesta, memang masih terus untuk belajar dieja oleh anak-anak negeri ini. Sadar maupun tak sadar, kita sudah berhasil mengajarkan hoaks, ujaran kebencian, akal sehat yang terbolak-balik, ketidakpercayaan, serta sejumlah konten negatif lainnya kepada anak cucu kita.

Tak usah marah, jika mereka kini lebih percaya medsos dibanding orang tuanya, sebab perilaku dan sikap orang tuanya sudah sama persis dengan apa yang diajarkan oleh gadget dan android yang telah secara sadar telah kita letakkan di jemari kecilnya dan terbenam jauh ke dalam otak kanak-kanak mereka.

Anak-anak kecil kita sangat lincah berorasi meniru gaya marah dan bernarasi sumpah serapah bak para calon dan tim sukses sungguhan. Anak-anak kita secara sadar maupun tak sadar sudah melatih kebenciannya, jika mengetahui kawannya berasal dari keluarga yang pilihan capresnya tak sama dengan capres pilihan orang tuanya.

Guru di sekolah, dosen di kampus, penceramah, tokoh masyarakat, dan sebagainya, juga ikut membenamkan dan melatih rasa tak suka terhadap muridnya, mahasiswanya, jemaahnya, atau warganya, yang tak sepilihan capres dengannya.

Pilpres kita ternyata butuh pil (baca obat) untuk bisa segera pulih dari penyakit kronisnya. Pil itu bernama pendidikan, khususnya untuk usia kanak-kanak. Bagaimana mungkin pilpres akan sehat di masa depan jika para orang dewasa di negeri ini masih terus bersumpah serapah di media-media terbuka yang juga bisa disaksikan anak-anak kita.

Pilpres masa depan kita masih akan tetap buram jika kita masih mengajarkan ketidakpercayaan terhadap metodologi perhitungan cepat (quick-count), seperti yang saat ini juga masih sedang dipelajari anak-anak kita di mata kuliah metodologi penelitian. Pilpres masa depan kita pun akan semakin buram, jika masih saja ujaran kebencian dan SARA itu terus menggantung secara tak terlihat di belakang bentangan syal “bhineka tunggal ika” yang masih digenggam erat kuku-kuku burung Garuda Pancasila sebagai simbol Negara kita.

Saya jadi teringat kisah-kisah heroik masa lalu yang dahulu dibisikkan orang tua kita sebelum tidur. Negeri kita awalnya adalah kerajaan-kerajaan yang terpisah. Lalu penjajah bergantian datang untuk menguasai tanah dan hasil bumi kita. Lalu kita bersepakat melalui proses yang cukup panjang, transit sejenak di prosesi sumpah pemuda, lalu berkumpul di muara kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kita pun bersepakat untuk bersatu dalam sejuta perbedaan yang kita miliki, dari Sabang sampai Merauke, Indonesia. Kini, penjajah model imperialism agresi militer sudah tak lagi menyentuh negeri kita. Lalu kita pun mulai kehilangan rasa yang awalnya lahir dari ketertindasan penjajahan yang sama.

Kini kita tak lagi terjajah secara bersama. Akibatnya kita pun mulai melupakan kebhinekaan kita. Kisah kita tak sama dengan kisah bambu runcing moyang kita dahulu. Kisah kita hari ini tergantung dari content apa yang kita ikuti di media sosial kita masing-masing.

Hal itu juga berlaku untuk urusan pilpres. Parahnya, kita seakan mau saja menjadi penjajah untuk tetangga kita yang berbeda pilihan capres. Saya menjadi maklum, bukankah sudah tak semua rumah akan serta merta mengibarkan bendera di setiap bulan kemerdekaan? Bukankah pula, sudah banyak sekolah yang tak wajib berupacara bendera, berpramuka, atau bahkan menghafalkan Pancasila.

Jika demikian, mungkin memang sudah waktunya saya berbisik kepada anak-anakku “belajarlah dari Avengers Endgame, dan tidak usah belajar dari pilpres yang juga sudah endgame”. Lalu perlahan “kupaksa” anak-anakku untuk kembali bermain bersama kawan-kawannya, bukan bermain bersama gadget mereka masing-masing, agar ketika saatnya tiba, mereka akan menjadi pelaku pilpres yang tetap berbeda, namun jauh lebih menghargai perbedaannya dibandingkan dengan generasi orang tuanya yang hari ini sudah “endgame”. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...