Isu Garis Keras

Shamsi Ali

Oleh: Shamsi Ali*Mungkin karena saya dalam perjalanan yang cukup jauh, sehingga pernyataan Prof Mahfud MD tentang provinsi-provinsi yang memilih paslon tertentu dikategorikan sebagai provinsi garis keras terlewatkan.Ada beberapa provinsi yang disebutkan, antara lain, Jawa Barat, Sulsel, dan beberapa lainnya.Lalu dalam sebuah pernyataan lainnya beliau medefenisikan garis keras itu sebagai “posisi yang tidak fleksible dan tidak mengenal kompromise”. Beliau menyebutkan itu dalam bahasa Inggris terbata-bata: stand on issue which is inflexible and not subject to compromise.Saya sangat menghormati Pak Mahfud karena selain memang ahli dalam bidangnya, juga sangat sederhana, tidak neko-neko dan tidak memburu kepentingan pribadi.Beliau menerima dengan lapang dada sebuah kenyataan politik pahit baru-baru ini. Dikecewakan oleh pencalonan cawapres, yang mungkin saja dalam bahasa saya sangat pahit dan kejam.Tetapi, dalam hal ini saya menilai pernyataan beliau kurang mengena dan sekaligus kurang bijak. Bahkan, pada tingkatan tertentu bisa berbahaya dan semakin memecah masyarakat bawah.Pernyataan Prof Mahfud MD ini menimbulkan banyak tanda tanya. Apa kriteria fleksibikitas? Apakah memilih paslon tertentu harus dilabeli dengan karakter tidak fleksible?Lalu sebaliknya mereka yang memilih paslon lain itu dengan sendirinya “fleksible dan kompromise”? Apakah “flessibilitas” itu diukur dengan memakai katamata pilihan paslon?Nampaknya dari pernyataan Prof. Mahfud itu jelas bahwa defenisi fleksibikitas ditentukan oleh pilihan paslon. Jika ini benar maka sungguh defenisi itu sangat tidak ilmiah.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...