Isu Garis Keras

Shamsi Ali

Tuduhan kepada propinsi-propinsi pemilih Prabowo sebagai propinsi yang tidak fleksible juga kurang mengena. Jabar kita kenal memang kuat memegang tradisi agamanya. Tapi jangan lupa, di Jabar juga banyak kasus-kasus yang tidak relevan dengan agama.Tapi yang lebih penting, dalam pilkada lalu Jabar memenangkan Kang Emil sebagai Gubenrurnya, yang dicalonkan justeru oleh Partai Nasdem, pendukung paslon 01.Sulsel juga demikian. Memenangkan Prof Nurdin Abdullah, yang justru pengusung utamanya adalah PDIP.Menyebut Sumbar sebagai provinsi garis keras juga rasanya kurang pas. Saya tahu sebagai contoh, Ketua Muhammadiyah Sumbar justru mendukung secara terbuka paslon 01.Jadi, intinya saya kira menuduh propinsi tertentu sebagai “hardliners” berdasarkan pilihan politik, sangat kurang mengena sekaligus kurang ilmiah.Berbahaya dan memecahYang paling berbahaya dari pernyataan Prof Mahfud MD adalah kemungkinan dipahami secara negatif oleh sebagian masyarakat. Seolah mereka yang memilih Prabowo Sandi itu adalah kelompok garis keras.Sebaliknya, yang memilih Jokowi adalah mereka yang moderat, fleksibel, rasional, dan seterusnya.Tanpa disengaja, pernyataan ini semakin memperdalam luka dan perpecahan di tengah masyarakat.Bagaimana tidak? Perdebatan di dunia media sosial begitu memecah belah masyarakat dalam pilpres ini. Kini dengan pernyataan itu semakin membuka perpecahan yang lebih luas.Jika direspon secara ekstrim oleh pihak lain, anggaplah pemilih paslon 02, maka tuduhan hardliner kepada mereka akan menjustifikasi (membenarkan) jika pemilih paslon 01 adalah mereka yang “anti Islam” dan non Muslim.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar