Penyakit Rentan Buruh: Depresi, Gangguan Pernapasan hingga Gangguan Pendengaran

Kamis, 2 Mei 2019 - 09:53 WIB

FAJAR.CO.ID–Setiap 1 Mei dirayakan sebagai Hari Buruh Internasional. Momen yang juga sering disebut May Day ini identik dengan aksi para buruh, untuk menyuarakan aspirasi dan menuntut hak guna memperbaiki kehidupan mereka.

Tidak dapat dipungkiri, buruh memiliki peran yang besar pada kemajuan sebuah perusahaan. Mereka rela menghabiskan sepertiga waktu dalam satu hari untuk bekerja demi mencapai target yang telah ditetapkan.

Sayangnya, di balik itu semua, para buruh tidak lepas dari berbagai masalah kesehatan. Secara umum, berikut adalah beberapa masalah kesehatan yang rentan dialami oleh para buruh:

Nyeri punggung bawah

Duduk selama berjam-jam untuk mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya mengakibatkan otot di leher, punggung, dan pinggang menjadi tengang. Keadaan ini membuat buruh rentan mengalami nyeri punggung bagian bawah atau nyeri pinggang. Risiko terjadinya nyeri punggung bawah bisa sangat tinggi jika seorang buruh tidak mampu untuk duduk pada posisi yang tepat.

Nyeri punggung bawah biasanya akan memberikan beberapa gejala. Misalnya, rasa nyeri berkelanjutan pada tulang belakang serta leher dan punggung terasa seperti ditusuk benda tajam. Selanjutnya, tidak mampu berdiri tegak tanpa rasa nyeri serta otot kram pada punggung bagian bawah.

Gangguan pendengaran

Buruh yang bekerja di bengkel, pabrik, atau pusat berbelanjaan berisiko terkena gangguan pendengaran. Ini disebabkan bunyi-bunyian keras yang ada di sekitar, baik itu suara mesin, hiruk pikuk orang yang berbicara, dan sejenisnya.

Gangguan pendengaran biasanya ditandai dengan adanya suara denging di dalam telinga, gendang telinga terasa nyeri saat terpapar bunyi-bunyian, serta kesulitan mendengar di tengah keramaian. Selanjutnya, sulit mengingat informasi yang diapatkan dan mudah terjatuh atau sempoyongan. Jika tanda-tanda tersebut tidak segera ditindaklanjuti, ketulian atau hilangnya pendengaran bisa saja terjadi.

Gangguan pernapasan

Kondisi ini utamanya terjadi pada buruh yang sering terpapar asap atau jenis polusi udara lainnya, seperti pekerja pabrik atau penyapu jalanan. Risiko terjadinya gangguan pernapasan seperti asma bisa semakin tinggi jika para buruh yang rentan tidak menggunakan masker saat bekerja.

Gangguan pernapasan, dalam hal ini asma, bisa bergejala mengi atau terdengar suara “ngik” saat bernapas, dada seperti terimpit atau tertekan, mudah mengantuk, kebingungan, letih,dan pusing. Jika tidak segera diatasi, hilangnya kesadaran mungkin saja terjadi.

Depresi

Ini adalah gangguan kesehatan yang dapat dirasakan oleh semua golongan buruh. Depresi bisa saja terjadi jika buruh selalu dituntut untuk menyelesaikan banyak pekerjaan dalam satu waktu sehingga memberikan beban berlebih pada pikiran. Hal ini menjadi semakin parah jika banyaknya waktu bekerja diikuti dengan kurang tidur, tidak makancsecara teratur, dan kurang minum air putih.

Saat depresi sudah telanjur terjadi, gejalanya bisa berupa perasaan murung atau tertekan sepanjang waktu, mudah lelah dan lemas, tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, dan berkurangnya minat pada hal yang sebelumnya disukai. Depresi perlu segera diatasi, jika tidak bisa berujung pada munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Baca Juga: Pil KB Mampu Kurangi Risiko Kanker Ovarium

Demikianlah beberapa masalah kesehatan yang bisa terjadi pada buruh. Dalam semarak Hari Buruh ini, para pekerja sebaiknya tidak hanya memikirkan segi materi, tetapi juga kesehatan tubuh sendiri. Di sisi lain, perusahaan juga sebaiknya lebih memperhatikan kesehatan buruh. Dengan kesehatan yang terpelihara baik, buruh dan perusahaan juga akan mendapat hasil yang positif. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.