Kesempatan Ketiga: Krisis Global 2020


Walau tidak diharapkan terjadi namun kesempatan adalah momen kemungkinan adanya kesempatan ketiga krisis global. Seperti siklus bisnis ada periode bergerak naik (boom) dan ada juga periode bergerak turun (bust). Boom dan bust adalah adalah hal biasa dalam dinamika ekonomi dan bisnis. Sebelum bust selayaknya memotret gejala atau sinyal ekonomi keuangan untuk pencegahan bagi keberlanjutan bisnis dan investasi.Membaca potret ekonomi keuangan harus cermat untuk menghindari kekeliruan atau gagap kognitif (cognitive errors) akibat bias, ilusi atau salah teori (fallacy) memahami pergerakan siklus boom dan bust. Bagi para ekonomis kehati-hatian diperlukan dalam menghindari misdiagnosa tanda-tanda awal. Fakta sekarang ini, siklus bisnis dan investasi boom dan bust memiliki interval semakin pendek dan frekuensi risiko bisnis dan investasi semakin meningkat.Sebagai contoh empirik frekuensi risiko semakin meningkat, dalam industri perbankan telah menerapkan bertahap instrumen Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 dan secara penuh penerapan pada 1 Januari 2020. Bank wajib menghitung potensi beban risiko bisnis akan datang (forward looking) yang belum terjadi dari seluruh instrumen keuangan dengan menetapkan bobot expected credit losses (ECL) alhasil Bank akan menyediakan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) lumayan besar yang memengaruhi modalnya.Potensi risiko krisis global ditandai melalui gejala atau sinyal yang hadir dalam dinamika perilaku ekonomi dan kompleksitinya. Walau kompleks, pendekatan lintas disiplin ilmu (multi paradigm) mampu meningkatkan kehati-hatian mencegah adanya misdiagnosa gejala krisis. Pemikiran Rickards (2011) terhadap gejala potensi risiko pasar uang, pasar modal dan pasar derivatif dipahami dengan teori kompleksiti (complexity theory) dan teori prospek dari Kahneman & Tversky (1979) terkait ekonomi perilaku.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar