Kesempatan Ketiga: Krisis Global 2020


Fondasi empirik teori kompleksiti didasarkan pada sistem yang kompleks pada pasar uang, modal dan derivative; tumbuh eksponensial (tumbuh berlipat-lipat), sistem tidak mudah diprediksi, spontan dan hingga kolaps seperti efek bola salju. Kerawanan atas keliruan pengukuran dan penggunaan alat ukur risiko oleh para pelaku pasar tidak mudah diketahui, apalagi disertai perilaku pengambilan keputusan irasional. Krisis global 2008, diawali subprime mortgages rugi kurang dari US$300 miliar ketika instrumen derivatif termasuk didalamnya kerugian berlipat/eksponensial melampaui US$6 triliun, kegagalan sistem keuangan tidak dapat dihindari. Ini merupakan contoh perilaku ekonomi “serakah yang dianggap baik” (greed is good).Memotret gejala atau sinyal pasar keuangan dengan indikasi baik patut disikapi dengan hati-hati demikian juga jika berindikasi buruk patut disikapi tanpa kepanikan. Mohamed Al. El-Erian (2019), pakar ekonomi keuangan, terkait data dan prediksi ekonomi dihadapkan permasalahan baru yaitu presisi ilusi (illusionary presicion). Sikapi data pasar keuangan dengan arif dan cerdas.Pencegahan kesempatan ketiga: krisis global 2020; aset investasi tetap disimpan pada instrumen yang berbeda tidak terkonsentrasi pada satu tempat. Dan selalu ada ruang untuk aset tradisonal safe haven yaitu simpanan emas batang. Liabilitas bisnis, kewajiban kredit jangka panjang dengan suku bunga mengambang patut dicermati dan dilakukan dengan hati-hati, pelunasan kredit lebih awal dapat menjadi pilihan. Pemilihan investasi dengan sistem bagi hasil (mudharabah) lazim ditawarkan produk syariah menjadi alternatif dan arif dalam menyesuaikan diri dengan sistem keuangan yang semakin kompleksiti dan rentan terhadap risiko pasar keuangan global bersifat sistemik. (*)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar