Marhaban

Jumat, 3 Mei 2019 - 07:27 WIB
Muhammad Khidri Alwi. (ist)

Oleh: Muhammad Khidri Alwi

Di bulan Sya’ban Nabi saw berdo’a.“Ya Allah, berkahi kami di bulan Syaban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan”. Demikian do’a Nabi saw sembari menghadirkan kerinduan beliau akan tamu yang sebentar lagi datang. Ketika Sya’ban semakin redup sinar bulannya, dan sebentar lagi ufuk barat menghadirkan cahaya rembulan ramadhan.Di penghujung Sya’ban Beliau berdiri, berseru, “Marhaban bil-muthahhir”, (Selamat datang wahai yang mensucikan).

Sahabat heran dan bertanya bertanya,“Wa mal muthahhiru ya Rasulullah?”, (siapa yang mensucikan itu, wahai Rasulullah?). Rasulullah saw menjawab “al-muthahhiru syahru Ramadhana, yuthahhiruna min dzunubii wal ma’ashiy” (yang mensucikan itu adalah Ramadhan, dia mensucikan kita kita dari dosa dan maksat)”.

Puasa yang bermakna imsak, atau menahan, tidak hanya mengajarkan kitauntuk tidak makan dan minum serta yang dapat membatalkan puasa kita di siang hari. Juga mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak hanya melulu hidupnya ditopang oleh makan dan minum untuk mempertahankan hidup. Ungkapan “kamu adalah apa yang kamu makan” sepertinya memang tepat untuk menggambarkan permasalahan kesehatan yang terjadi saat ini.

Makanan bisa menjadi kunci untuk membuat tubuh tetap sehat sekaligus kunci untuk membuat tubuh jatuh sakit. Sebelas bulan di setiap hari kita terus membebani tubuh dengan tumpukan makanan dan minuman yang silih berganti keluar masuk. Hari ini masuk berjuta sel, besok keluar dengan jumlah yang hampir sama dari sel-sel mati berupa toksin untuk membersihkan tubuh. Mesin apapun bagus dan canggihnya jika terus beroperasi akan mengalami kelelahan dan keausan. Begitupun dengan perut kita, akan terus mengalami kelemahan dan menuju penuaan.

Datangnya bulan Ramadan memberi ruang dan keleluasan untuk beristirahat dan merekonstruksi serta mereproduksi sel-sel muda untuk mengganti sel-sel tua, sehingga terjadi peremajaan kembali. Selain itu, puasa yang baik tidak hanya berhenti dari sekadar tidak makan dan tidak minum. Karena itu, bukanlah esensi puasa yang sebenarnya.

Hanya berhenti ditataran puasa elemneter. Tetapi kita juga disuruh mempuasakan panca indera kita dari dosa panca indera (shaumul khushus). Jika mampu lagi, dinaikkan maqam puasa kita ke puasa istimewa. Tidak hanya menahan lapar, haus dan hubungan seks, tetapi juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badan dari dosa dan maksiat. Inilah puasanya orang yang memiliki tingkat kesabaran yang baik.

“Ya Allah, sesungguhnya sebentar lagi bulan Ramadhan-Mu akan dating, bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an dan dijadikan petunjuk bagi manusia, penjelasan dari petunjuk dan pembeda. Jadikan ia keselamatan bagi kami dalam kemudahan dan keselamatan dari-Mu. Wahai Yang Menerima amal yang sedikit dan mensyukuri yang banyak, terimalah dariku amal yang sedikit.” Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.