Pembunuh Itu, Bernama Pemilu 2019


Oleh: Aswar Hasan (Dosen di Unhas)Pemilu kali ini untuk Caleg dan Pilpres 2019 yang bersamaan, sungguh telah menimbulkan banyak permasalahan. Bahkan, pada saat opini ini ditulis, berdasarkan penjelasan Sekjen KPU Arief Rahman, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia akibat menjalankan tugas kepemiluan sudah mencapai 296 jiwa. Belum termasuk yang jatuh sakit;2.151 orang (Republika.co.id, 29 April 2019).Pemilu kali ini adalah yang paling banyak masalahnya, hingga menelan korban ratusan jiwa. Inilah bencana politik terbesar sepanjang perjalanan demokrasi (Pemilu) sejak Indonesia merdeka. Setidaknya, ada 10 permasalahan yang penulis identifikasi sebagai persoalan yang ditimbulkan oleh sistem Pemilu kali ini, yaitu:Pertama, paling rumit. Pakar Hukum Tata Negara yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Hamdan Zoelva menyatakan Pemilu kali ini merupakan terumit dan harus segera dilakukan evaluasi untuk menyempurnakan Pemilu 2024. Salah satu bentuk kerumitannya, karena Pemilih ikut menjadi bingung disaat akan memilih calon anggota DPRD Kota/ Kabupaten, Provinsi dan DPR RI, serta DPD.Kedua, Termahal. Biaya Pemilu yang menelan 25 Triliun lebih bukanlah jumlah sedikit, terlebih jika kita ikut menghitung jumlah biaya yang dikeluarkan oleh setiap Caleg Partai, DPD hingga pasangan calon presiden yang ikut bersaing. Sistem Pemilu kali ini, sungguh berbiaya mahal. Dari cerita yang berkembang, ada Caleg untuk DPR RI yang sudah menghabiskan 10 Miliar lebih sementara yang sudah menghabiskan sekitar 5 Miliar masih bernasib tidak beruntung, karena jumlah perolehan suaranya tidak signifikan untuk melenggang ke Senayan. Sementara itu, biaya yang dikeluarkan oleh pasangan calon presiden, mungkin sampai trilliunan.

Komentar

Loading...