Balai Pelestarian Cagar Budaya Diskusi Kelompok Terumpun

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAROS — Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun terkait Monitoring dan Evaluasi Laju Kerusakan Lukisan Dinding Gua dan Hasil Studi Teknis Pengembangan Situs Gua Prasejarah Kabupaten Maros, Sabtu,4 Mei.

Diskusi ini melibatkan akademisi, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Maros, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Maros, Dinas Pekerjaan Umum (PU), tokoh masyarakat, Kepala Desa, tokoh pemuda, jurusan pelihara, dan pihak terkait lainnya.

Kegiatan diskusi ini dibagi dalam dua sesi. Di mana sesi pertama dipandu akademisi Unhas Iwan Sumantri dengan pemateri dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulsel, yakni Pengakaji Cagar Budaya Rustan Lebe dan Andini Perdana.

Pengkaji Cagar Budaya BPCB Sulsel, Andini Perdana yang membawakan materi kajian tata pamer di pusat informasi Taman Prasejarah Leang Leang.

Dia mengatakan, kajian tata pamer ini dilaksanakan pada Maret 2019. “Jadi tahun 2018, BPCB telah membangun ruang informasi yang berarsitektur tradisional menyerupai atap rumah bugis. Ruang informasi inilah yang kita tata pamerannya,” katanya

Apalagi kata dia, tingkat kunjungan di Taman Prasejarah Leang Leang per tahunnya semakin meningkat. Sehingga pihaknya berupaya memberikan sesuatu yang baru.

“Kunjungan di Kawasan Pra Sejarah Leang-leang itu, per tahunnya semakin meningkat. Sehingga kita berusaha memberikan sesuatu yang baru dengan menyiapkan ruang informasi yang berisikan tata pameran yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung ataupun calon pengunjung. Namun sebelum menata, perlu kajian tata pamer. Makan dari itu kami melakukan kajian tata pamer juga melakukan studi pengunjung, calon pengunjung, dan masyarakat. Yang selanjutnya menentukan segmentasi pengunjung, lalu menentukan nama, visi dan misi ruang informasi, lalu menyusun storyline, lalu merekomendasikan desain,” jelasnya.

Rencananya, kata dia, tahun ini penataannya akan segera dirampungkan. Selain itu juga ada dua materi lainnya yang dipaparkan oleh dua pemateri lainnya yakni hasil monitoring dan evaluasi laju kerusakan lukisan dinding gua yang dibawakan pengkaji cagar budaya BPCB Sulsel, Rustan Lebe.

Dalam kajiannya itu sudah dilakukan 3 tahun. Dimana monitoring dilakukan di gua-gua pra sejarah di Maros, Pangkep, Bone, dan Konawe.

Rustan mengatakan setelah pihaknya  melakukan kajian selama hampir 5 tahun, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan menemukan fakta kerusakan gambar pra sejarah di beberapa situs gua prasejarah yang ada di Pangkep.

“Jadi tahun 2015 kita melakukan kajian pelestarian dilima gua kawasan Pangkep untuk mendeteksi kerusakan. Hasilnya kita menemukan 340 gambar. Dari gambar itu ada 315 yang rusak dan yang utuh hanya 25 gambar saja,” katanya.

Bahkan tak hanya lukisan nya saja, kata dia, kebanyakan medianya pun mengalami kerusakan 100 persen. “Kebanyakan kerusakannya terjadi pada media atau lapisan batu tempat gambar itu menempel. Bahkan, kerusakannya mencapai 100 persen,” katanya.

Kerusakannya sendiri, kata dia, diidentifikasi karena aus, batuan retak, ganggang dan lumut hingga adanya vandalisme.

“Penyebab kerusakan ada juga disebabkan oleh faktor alam, seperti aus, ganggang dan batuannya yang retak. Tapi juga ada faktor lain dari manusia seperti vandalisme dan gua dijadikan sebagai kandang ternak warga. Hanya kami belum  bisa menentukan seberapa jauh kerusakan dari intervensi aktivitas manusia itu sendiri,” ungkapnya.

Sedang materi ketiga yakni hasil studi teknis pengembangan kawasan karst Maros yang studi teknisnya dilaksanakan  April 2019, dimana pematerinya Laode Muhammad Aksa.

Berdasarkan hasil Delineasi Kawasan Cagar Budaya Gua Prasejarah karst Maros-Pangkep tahun 2011,  Kawasan Karst Maros Pangkep dibagi dalam 20 sub kawasan. Akan tetapi di studi teknis ini, hanya dua sub kawasan saja yang dikembangkan, yaitu subkawasan Leang leang dan sub kawasan Lopi-lopi.

Dimana upaya pengembangannya itu dibuat tiga jenis wisata seperti wisata pendidikan, wisata budaya dan wisata minat khusus. (rin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...