Berpuasa di Iklim Pemilu

Sabtu, 4 Mei 2019 - 07:21 WIB
M. Qasim Mathar. (ist)

Oleh: M. Qasim Mathar

Memang hanya kepada orang-orang beriman puasa Ramadan diwajibkan. Mereka yang tidak beriman, apa tidak diwajibkan berpuasa? Berpuasa lebih baik baginya. Semoga dengan berpuasa, keimanan tumbuh dalam dirinya. Kalau pun ada orang yang sehat tapi tidak berpuasa, tidak usah dicela. Mungkin orang yang demikian belum tergolong orang yang diwajibkan atasnya puasa.

Orang beriman ialah yang percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari Akhirat, takdir baik dan buruk. Orang-orang yang berkepercayaan demikian sudah ada pada zaman-zaman yang lampau. Dan, akan tetap ada pada zaman yang akan datang. Karena itu, puasa sudah diwajibkan pada masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

Menahan diri dan berpantang terhadap sesuatu, itu puasa. Menahan atau berpantang makan minum, itu juga disebut berpuasa. Berpantang untuk bicara pun boleh disebut berpuasa. Semua itu disebut berpuasa, karena pada dasarnya berpuasa adalah menahan diri dari sesuatu. Puasa Ramadan adalah menahan diri untuk tidak makan-minum, untuk tidak ber”hubungan” suami isteri, untuk tidak bertutur, berpikir, dan berbuat yang tak berguna, kotor, dan keji, sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Menahan diri seperti itu tidak mudah.

Karena itu, kalau hanya menahan makan minum pada siang hari, itu puasa anak-anak, orang yang belum dewasa. Anak-anak ikut berpuasa, tapi juga masih berkelahi sesamanya. Puasa orang dewasa, bukan hanya menahan makan dan minum di siang hari. Tapi, menahan diri dari hal-hal yang telah disebutkan di atas. Puasa orang dewasa yang berkualitas tinggi ialah, apabila semua yang dikendalikan pada bulan Ramadan memberi efek yang positif bagi yang berpuasa dan masyarakatnya pada hari-hari sesudah Ramadan. Kualitas yang demikian disebut takwa, yang menjadi tujuan berpuasa.

Di antara ciri takwa ialah: bersifat dermawan baik saat lapang maupun sempit, menahan marah, memaafkan manusia, segera sadar bila keliru, banyak berbuat kebaikan, dan lain-lain. Idealnya, setiap bulan Ramadan melahirkan orang-orang takwa. Dengan demikian, orang-orang takwa selalu hadir di tengah masyarakat. Sehingga, sifat kikir dan serakah, marah dan benci, dendam dan dengki, onar dan rusuh, tidak akan mengganggu kehidupan bersama, karena sifat takwa dimiliki oleh banyak dari warga masyarakat kita.

Baguslah, Ramadan datang tahun ini di tengah iklim pemilu di negeri kita. Pemilu yang telah dilaksanakan pada 17 April yang lalu, menyisakan iklim yang masih panas dan emosional. Meskipun langkah rekonsiliasi mulai ditempuh, tokoh dan politisi berbicara keras masih menjadi tontonan sehari-hari. Lusa, orang-orang Muslim sudah mulai berpuasa. Termasuk tokoh dan politisi Muslim. Akankah iklim pemilu dalam kendali menahan diri dari tokoh dan politisi Muslim yang sedang berpuasa, sehingga iklim pemilu semakin damai?

Mungkinkah para ustaz, dai, kiai, habib, dan mereka yang dikenal sebagai pemuka Islam, tapi sering juga tampil sebagai politisi, membuktikan diri bahwa mereka adalah benar orang yang berpuasa dan berusaha meraih sifat ketakwaan? Nanti kita lihat! Apalagi, saat pengumuman resmi dari KPU, pada 22 Mei, itu persis dalam iklim peringatan Turunnya Alquran (Nuzulul Quran). Dapatkah iklim Nuzulul Quran memberi rasa damai pada saat yang sama dengan pengumuman KPU dan sesudahnya? Nanti kita lihat, seberapa kuat puasa terhadap ego kita? Kita, yang ustaz, dai, kiai, habib, pemuka Islam…, dan ummat? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.