Cerita Guru Apung, Menantang Maut Arungi Laut Tiap Hari


Dari pulau ke pulau. Menantang gelombang dengan perahu kecil. Begitulah guru ini setiap hari.Laporan: SAKINAH FITRIANTIFAJAR.CO.ID, MAKASSAR — NAMANYA Askar Purwanto. Guru honorer di SDN 11 Pulau Langkoitang, Desa Balo-baloang, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.Butuh dua jam setiap hari mengarungi perairan Kecamatan Liukang Tangaya, sebuah wilayah kepulauan terjauh milik Pangkep. Berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB).Pemuda kelahiran Pulau Sapuka, 10 April 1994 ini merupakan salah seorang warga di Pulau Sapuka, Kelurahan Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya. Namun, menjadi tenaga pendidik honorer di Pulau Langkoitang sejak 2016 lalu.Tenaga pengajar yang minim di sekolah tersebut, menjadi alasannya. Di Pulau Sapuka tempat tinggalnya sudah jauh lebih baik daripada yang ada di Pulau Langkoitang.Pakaian yang dikenakan pun seringkali basah setiap menumpang di perahu tradisional “jolloro” milik nelayan. Dia hanya bisa menumpang. Untuk membawa sendiri perahu, honornya tentu tak cukup. Yang utama adalah selamat sampai ke sekolah.”Ombak memang cukup tinggi. Jadi pasti basah. Apalagi, jolloro ini kecil jadi gampang terbawa arus,” urai Askar, kemarin.Walaupun begitu, ia tidak pernah surut untuk menjadi seorang pengajar di sekolah tersebut. Apalagi Askar merupakan guru kelas III dan IV. Sebanyak 40 murid menantinya tiap hari.Di sekolah tempatnya mengajar, hanya ada dua guru berstatus PNS. Guru honor lainnya pun terbatas. Ruangan di sekolah itu hanya ada tiga saja. Kelas I dan II digabung, kelas III dan IV juga digabung, begitupula dengan kelas V dan VI.

Komentar

Loading...