Cerita Guru Apung, Menantang Maut Arungi Laut Tiap Hari

Sabtu, 4 Mei 2019 - 13:12 WIB
SAKINAH FITRIANTI/FAJARTANTANG OMBAK. Askar Purwanto menumpang di kapal nelayan ke sekolah tempatnya mengajar di SDN 11 Pulau Langkoitang, Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkep.

Dari pulau ke pulau. Menantang gelombang dengan perahu kecil. Begitulah guru ini setiap hari.

Laporan: SAKINAH FITRIANTI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — NAMANYA Askar Purwanto. Guru honorer di SDN 11 Pulau Langkoitang, Desa Balo-baloang, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulsel.

Butuh dua jam setiap hari mengarungi perairan Kecamatan Liukang Tangaya, sebuah wilayah kepulauan terjauh milik Pangkep. Berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pemuda kelahiran Pulau Sapuka, 10 April 1994 ini merupakan salah seorang warga di Pulau Sapuka, Kelurahan Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya. Namun, menjadi tenaga pendidik honorer di Pulau Langkoitang sejak 2016 lalu.

Tenaga pengajar yang minim di sekolah tersebut, menjadi alasannya. Di Pulau Sapuka tempat tinggalnya sudah jauh lebih baik daripada yang ada di Pulau Langkoitang.

Pakaian yang dikenakan pun seringkali basah setiap menumpang di perahu tradisional “jolloro” milik nelayan. Dia hanya bisa menumpang. Untuk membawa sendiri perahu, honornya tentu tak cukup. Yang utama adalah selamat sampai ke sekolah.

“Ombak memang cukup tinggi. Jadi pasti basah. Apalagi, jolloro ini kecil jadi gampang terbawa arus,” urai Askar, kemarin.

Walaupun begitu, ia tidak pernah surut untuk menjadi seorang pengajar di sekolah tersebut. Apalagi Askar merupakan guru kelas III dan IV. Sebanyak 40 murid menantinya tiap hari.

Di sekolah tempatnya mengajar, hanya ada dua guru berstatus PNS. Guru honor lainnya pun terbatas. Ruangan di sekolah itu hanya ada tiga saja. Kelas I dan II digabung, kelas III dan IV juga digabung, begitupula dengan kelas V dan VI.

“Ini yang menjadi hambatan juga, kelas terbatas. Jadi setiap mengajar mengurangi konsenterasi. Sebab ada dua kelas diajar sekaligus. Tetapi mau bagaimana lagi tidak ada ruangan,” paparnya.

Alumni PGSD Universitas Bosowa ini juga menceritakan ia biasanya menginap di sekolah. Utamanya saat cuaca di perairan tidak mendukung. Sebab tidak ada jolloro yang berani melaut saat ombak tinggi.

Ia menginap di ruangan kepala sekolah. “Di situ kita bagi dua jadi tempat menginap. Kalau makanan biasa dibawakan sama orang di kampung itu,” katanya.

Dia menceritakan juga pengalaman paling dirasakan beberapa waktu lalu, saat persiapan menghadapi ujian sekolah. Saat itu cuaca di perairan sedang tidak mendukung. Namun, ada urusan di sekolah yang mendesak ia pun bertekad menyebarang lautan.

Jolloro yang ditumpanginya pun nyaris terbalik saat dihantam ombak setinggi dua meter. Saat itu, hujan lebat dan badai. “Untung saja kita masih selamat,” ucapnya bersyukur.

Sulitnya akses yang menghubungkan pulau tempat tinggalnya dengan sekolah tempatnya mengajar tidak sebanding dengan insentif yang diberikan. Sejak Maret ia belum menerima insentif. Biasanya ia dapat insentif Rp500 ribu per triwulan.

Askar juga menyayangkan tidak adanya penempatan guru SD untuk Kecamatan Liukang Tangaya setiap penerimaan CPNS. Sehingga harapannya untuk mengabdi dengan status PNS di pulau yang kondisi pendidikannya memprihatinkan pun pupus.

Pada penerimaan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), namanya tak masuk. Pemerintah lebih memprioritaskan honorer K2 pada penerimaan itu.

“Itu kami sayangkan juga tidak ada formasi guru SD untuk penempatan Tangaya. Padahal kami ingin jadi PNS di daerah sendiri. Agar pendidikan bisa maju juga. Belum lagi penerimaan PPPK di Pangkep lebih diutamakan K2. Sehingga kami tidak ada peluang untuk daftar,” ucapnya. (*/rif-zuk)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.