Momentum Merekatkan Keretakan

Sabtu, 4 Mei 2019 - 07:17 WIB
Adnan Saputra. (ist)

Oleh: Adnan Saputra (Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UNHAS)

Memang, tak dapat dibungkiri bahwa tak satu pun insan di muka bumi ini yang luput dari kata salah. Entah disengaja atau tidak, sadar atau tidak, sembunyi atau pun terang-benderang, melalui lisan maupun tulisan, setiap insan pernah khilaf di atasnya, termasuk kekhilafan yang lahir dari rahim kontestasi pemilu baru saja.

SEPERTI gelas yang retak memecah, walaupun dengan usaha yang besar, sulit bagi kita untuk membuatnya utuh seperti sedia kala, sebab retakan-retakan itu tidaklah mudah dihijab dari pandangan hati dan mata. Begitu pun halnya dengan hati setiap insan. Ketika kita melukai hati seseorang, luka itu tentu akan berbekas menjejak, dan tak lekas lenyap dalam hitungan sekejap mata.

Namun, seorang insan yang bijak dan berbudi luhur tak akan pernah merawat luka yang menderanya itu secara terus-menerus dalam jiwanya. Apalagi, sampai terbakar oleh api dendam dan memutus tali silaturahmi. Ia akan menyikapi setiap masalah dengan hati dan pikiran dingin. Dan sikap terbaik seorang insan terhadap orang yang menyakitinya ialah, dengan cara memaafkannya.

Memaafkan adalah puncak kemuliaan hati seorang insan yang dizalimi. Menurut Ibn Al-Qayyim, hakikat memaafkan adalah menggugurkan hak untuk membalas dendam karena kemurahan hati yang bersangkutan, meski ia dapat melampiaskan dendam kesumatnya.

Jadi, pemaaf adalah orang yang tidak mengambil haknya untuk menyakiti dan memusuhi orang yang telah menzaliminya, meski ia sanggup melakukan hal tersebut. Orang seperti inilah yang dijanjikan pahala oleh Allah SWT sebagaimana yang tertuang dalam surah Asy-Syura ayat 40 yang artinya, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan serupa. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Selain itu, para cendikiawan juga mengatakan bahwa memaafkan seseorang laksana menyinari tempat yang selama ini gelap. Artinya, dendam hati yang terpatri dalam jiwa membuat kita cenderung berpikir negatif terhadap orang yang pernah menyakiti kita. Ada suatu sudut di ruang hati yang tak begitu cerah dengan hal itu. Maka, memaafkan adalah celah memberi cahaya untuk hati kita kembali terang untuknya.

Juga dikatakan bahwa memaafkan laiknya menyegarkan bunga yang layu. Artinya, dua orang yang saling berdiam diri di antara kesalahan akan membuatnya enggan bertukar rupa dan sapa. Saling memaafkan adalah jalan untuk membuat senyum kembali merekah dan saling tercurahkan di antara mereka. Ahli hikmah pernah berkata, ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu.

Sejatinya, belajar memaafkan kesalahan orang lain juga merupakan manifestasi dari seni menikmati hidup bahagia. Alangkah menderita dan tersiksanya seseorang yang terus-menerus menyimpan rasa dendam kepada orang lain. Alangkah sengsaranya jika hati diberati rasa emosi dan amarah yang tidak berkesudahan.

Belajar memaafkan jauh lebih mulia daripada menunggu orang lain meminta maaf kepada kita. Oleh sebab itu, hidup ini akan lebih indah jika ungkapan tiada maaf bagimu diubah menjadi aku sudah maafkan semuanya.

Oleh sebab itu, semua agama di muka bumi ini, terutama Islam, mengajak manusia untuk saling memaafkan, dan memuliakan serta memberikan posisi tinggi bagi siapa saja yang ingin memaafkan. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur dan terpuji, yang harus menyertai diri seorang Muslim yang bertakwa.

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Oleh sebab itu, marilah kita menyambut sekaligus menjadikan Ramadan yang telah nyata di pelupuk mata kita ini sebagai momentum untuk saling maaf-memaafkan dan mengeratkan simpul ukhuwah, momentum untuk merekatkan keretakan-keretakan yang sempat terjadi diantara kita untuk menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah-tengah kita. Masyarakat yang harmonis adalah masyarakat yang romantis dan kuat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.