Teroris Kelompok Solihin Rencanakan Aksi Saat People Power

Rabu, 8 Mei 2019 - 13:35 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Kelompok teroris pimpinan Solihin alias Abu Faisal, pasang target melakukan aksi teror saat terjadi people power yang belakangan ini bergaung.

Berdasarkan pengakuan sejumlah anggota kelompok Solihin, diketahui Solihin alias Abu Faisal memerintahkan aksi teror itu targetnya ada dua, polisi dan peserta.

Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, dalam penangkapan berantai sejak Kamis (2/5) hingga Sabtu (4/5), ditangkap delapan orang terduga teroris. Dua orang ditangkap di Bitung, Sulawesi Utara berinisial RH dan M.

”Keduanya berencana bergabung dengan Majelis Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Poso,” terangnya.

RH dan M ditangkap saat masih dalam perjalanan menuju Poso. Dia mengatakan, saat keduanya diperiksa, diketahuilah mereka disuruh seseorang bernama Solihin. Upaya penangkapan dilanjutkan dengan menangkap enam terduga teroris lain, yakni Solihin alias Abu Faisal, AN, MC, MI, Samuel alias IF dan T. ”Ini sekaligus mengklarifikasi informasi sebelumnya, yang hanya empat orang,’ tuturnya.

Menurutnya, dari enam terduga teroris itu yang paling menonjol ada tiga, yakni Solihin yang menjadi pemimpin, Samuel perakit bom dan T, yang meninggal dunia karena mencoba melemparkan bom.

Untuk Solihin, sebenarnya sejak 2014 telah dimonitor Densus 88 Antiteror. ”Rekam jejaknya cukup panjang dalam dunia kelompok teroris,” jelasnya.

Solihin pernah menghadiri pertemuan nasional kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Batu, Malang, Jawa Timur pada 2015. Setelah pertemuan itu, terjadilah aksi teror di Jalan Thamrin yang fenomenal. ”Solihin diduga terlibat dalam aksi tersebut,” urainya.

Selanjutnya, Solihin yang dalam pengejaran Densus 88 Antiteror sempat melarikan diri ke Papua. Dalam upayanya itu dia membuat pelatihan militer di Pegunungan Cyclop, Papua. ”Dia juga memiliki catatan tersendiri saat kejadian penyanderaan Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua,” paparnya.

Saat penyanderaan terjadi, ternyata Solihin memerintahkan sejumlah anggotanya membantu melakukan aksi di sekitar rutan Mako Brimob. ”Itu sesuai pengakuan anggotanya yang tertangkap saat itu,” terangnya.

Yang terbaru, Solihin menjadi otak dari kelompoknya yang merencanakan aksi teror dengan bahan peledak TATP saat terjadi unjuk rasa people power. Solihin menargetkan dua sasaran, petugas kepolisian dan peserta unjuk rasa tersebut. ”Jadi, mereka menunggu momentum itu makanya mereka di Bekasi,” jelasnya.

Dedi menjelaskan, TATP yang digunakan kelompok itu merupakan buatan sendiri. Peracik sekaligus perakitnya adalah Samuel. ”Dia merupakan perakit bom yang lebih senior dibanding Solihin, lebih ahli,” paparnya.

TATP itu dibuat dari berbagai bahan yang dicampur. Semua bahan tersebut didapatkan di pasaran. ”Semua bom yang dimiliki kelompok ini yak arena Samuel,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut.

Selanjutnya, terduga teroris yang meninggal dunia berinisial T. Dia menjelaskan, T melempar bom dan akhirnya dilumpuhkan dengan ditembak. Saat itu bom yang berada di tangannya meledak dan mengenainya sendiri. ”Memang rencananya serangan aksi terornya bom lempar dan bom bunuh diri,” tuturnya.

Baca: Hidayat Sebut People Power Sebatas Kritik Pemilu

Polisi selama ini disasar dengan dasar thogut, bagaimana dengan masyarakat, apa dasarnya kelompok Solihin menyasar masyarakat?

Dedi menjelaskan, kemungkinan kelompok ini ingin jumlah korbannya semakin banyak. Sehingga, bisa disorot banyak pihak, sekaligus memancing kelompok teroris lainnya. ”Itu kemungkinan alasannya,” jelasnya. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.